У нас вы можете посмотреть бесплатно Doa yang Tertahan dari Luwu: Marliani Menanti Kepastian Suami yang Kapalnya Terbakar di Selat Hormuz или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#tribuntimur #tribunviral #Kaptenmiswar #restuostri #berlayar #selathormuz #alumnipip #bantukeluarga Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Capten Miswar, pelaut asal Kelurahan Pattedong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sempat meminta restu kepada istrinya sebelum berangkat menjalankan tugas pelayaran menuju perairan sekitar Selat Hormuz. Permintaan restu itu menjadi percakapan terakhir antara Miswar dan istrinya, Marliani Ahmad (47), sebelum kapal tugboat yang dinakhodainya dilaporkan mengalami insiden di kawasan tersebut. “Bapak sempat sampaikan mau berangkat menjemput kapal rusak. Saya hanya bilang hati-hati dan semoga sehat-sehat,” kata Marliani dengan suara parau ditemui di kediamannya di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, Senin (9/3/2025) sekitar pukul 15.06 Wita sore. Marliani mengaku suaminya berangkat menjalankan tugas pada Kamis (5/3/2026). Ia menyampaikan kepada keluarga, pelayaran menuju lokasi kapal yang akan dievakuasi diperkirakan memakan waktu sekitar satu hari. Capten Miswar diketahui bekerja sebagai kapten kapal tugboat di perusahaan pelayaran Abu Dhabi Ports. "Sudah bekerja di perusahaan selama sekitar 10 tahun," aku dengan nada pelan, berusaha menyembunyikan kesedihannya. Selama ini, tugas utamanya adalah memandu kapal-kapal besar yang hendak masuk ke pelabuhan Abu Dhabi. Atau menjalankan operasi suplai di kawasan perairan. “Biasanya bapak kerja di kapal tugboat. Mengarahkan kapal yang mau masuk pelabuhan, kadang juga kapal suplai. Beberapa kali juga berlayar ke Oman,” ujar Marliani. Kabar mengenai insiden yang menimpa kapal tersebut pertama kali diterima keluarga dari rekan kerja Miswar di perusahaan. Informasi itu disampaikan melalui telepon kepada anak mereka. “Anak saya ditelepon teman perusahaan bapaknya. Katanya kapal ayahnya kena rudal,” kata Marliani. Meski demikian, hingga kini keluarga belum menerima bukti visual berupa foto maupun video terkait kejadian tersebut. “Belum pernah ada gambar atau video yang kami terima,” ujarnya. Pihak keluarga juga telah menerima komunikasi dari perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri. Menurut Marliani, perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia telah menghubungi keluarga untuk meminta alamat lengkap rumah Kapten Miswar. “Sudah ada informasi dari pemerintah dan perusahaan sejak hari Sabtu. Dari KBRI di Oman dan juga perwakilan perusahaan,” katanya. Selain itu, para alumni Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar tempat Miswar menempuh pendidikan juga ikut membantu keluarga mencari informasi. Capten Miswar diketahui merupakan alumni angkatan ke-15 Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar. “Rencana malam ini kami juga akan Zoom dengan alumni Korps PIP. Mereka yang akan membantu mengkomunikasikan dengan pihak perusahaan,” ujar Marliani. Di tengah ketidakpastian tersebut, Marliani mengaku hanya bisa berharap suaminya tetap selamat. “Doa dan harapan kami semoga bapak bisa bertahan dalam keadaan apa pun dan kembali dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apa pun,” katanya. Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan dan doa yang terus mengalir dari keluarga, tetangga, dan kerabat. “Terima kasih atas doa-doa dari keluarga, tetangga, dan teman-teman, baik lewat media sosial maupun yang datang langsung ke rumah,” ujar Marliani. Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang menyampaikan, insiden tersebut terjadi pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat. Lokasinya berada di perairan Selat Hormuz, di antara wilayah Persatuan Emirat Arab (PEA) dan Oman. Informasi awal mengenai kejadian itu diterima Kemlu melalui Kedutaan Besar RI di Abu Dhabi dan Muscat. “Pada 6 Maret 2026, Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat menerima laporan terkait insiden yang menimpa satu tugboat bernama Musafa II berbendera Persatuan Emirat Arab,” demikian pernyataan resmi Yvonne yang dikutip Senin (9/3/2026). Kapal Mussafah II diketahui memiliki tujuh awak kapal, termasuk empat WNI anak buah kapal (ABK), serta membawa enam teknisi, di antaranya satu WNI. Saat kejadian, kapal tersebut sedang melakukan pengecekan terhadap kapal kontainer Safin Prestis yang mengalami kerusakan. “Berdasarkan saksi mata, Musafa II mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar. Pada saat kejadian, empat WNI ABK berada di kapal Musafa II dan satu WNI teknisi sedang berada di kapal kontainer Safin Prestis,” lanjutnya. Reporter: Muh Sauki Maulana Narartor : Rasni Gani Editor Video : Sanovra J. R (TRIBUN-TIMUR.COM) Update info terkini via http://tribun-timur.com/ YouTube business inquiries: 081144407111