У нас вы можете посмотреть бесплатно SIRIG KURI PEDAWA или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Film dokumenter ini mengangkat kisah perjalanan Tari Rejang Bali Aga di Desa Adat Pedawa, sebuah tarian sakral yang nyaris punah namun berhasil dihidupkan kembali melalui niat bakti, doa, dan komitmen bersama masyarakat adat. Pada rentang tahun 1991–1995, Tari Rejang hampir tidak lagi ditarikan. Putu Yuli Supriyandana, Sekretaris Sekolah Adat Manik Empul Desa Pedawa, bersama I Wayan Sukrata, tokoh masyarakat, menjelaskan bahwa pada masa itu minat masyarakat dan regenerasi penari mengalami kemunduran drastis, bahkan dalam sebuah upacara hanya tersisa 3–4 orang penari Rejang. Kegelisahan mendalam dirasakan oleh I Wayan Sadnyana, Kepala Sekolah Adat Manik Empul Desa Pedawa. Ia menyadari bahwa budaya Bali Aga di Pedawa mulai memudar. Dari kegelisahan inilah lahir tekad untuk membentuk Sekolah Adat Manik Empul, dengan fokus utama pada rekonstruksi budaya, yakni menghidupkan kembali tradisi yang sempat hilang namun masih tersimpan dalam ingatan para tetua adat. Salah satu temuan penting adalah adanya tiga jenis Tari Rejang yang sudah lebih dari 40 tahun tidak ditarikan. Makna spiritual Tari Rejang diperkuat oleh pandangan Prof. Dr. I Ketut Suteja, SST., M.Sn, Guru Besar ISI Bali. Beliau menegaskan bahwa spiritualitas merupakan roh dan jiwa manusia. Tarian bukan sekadar rangkaian gerak, melainkan ekspresi tulus dari niat bakti yang dipersembahkan secara vertikal kepada Tuhan. Secara adat, I Wayan Sudiastika, Kelian Desa Adat Pedawa, menegaskan bahwa dalam upacara Saba, Tari Rejang wajib digelar dan tidak boleh ditiadakan. Selain berfungsi sakral sebagai persembahan untuk menghibur para dewa-dewi, tarian ini juga memiliki fungsi sekala, yakni menghibur dan membangkitkan semangat masyarakat yang menjalani rangkaian upacara hingga larut malam. Upaya rekonstruksi gerak tari dilakukan dengan penuh kehati-hatian. I Wayan Wayan Riwed dan Nengah Wina, pelatih Tari Rejang, menceritakan bagaimana ingatan tubuh perlahan kembali hidup saat tarian mulai dipraktikkan. Gerakan seperti Sirig Kuri diingat kembali melalui rasa, intuisi, dan pengalaman masa lalu para tetua. Proses ini menjadi bukti bahwa memori budaya dapat bangkit melalui praktik langsung dan ketulusan niat. Dimensi spiritual perjalanan ini juga diperkuat oleh kisah kaul dan doa yang dipanjatkan kepada Hyang Kuasa di Hulu Danu Tamblingan, sebagai wujud tanggung jawab moral dan spiritual agar Tari Rejang tetap lestari dan hubungan sakral tidak terputus. Kebangkitan Tari Rejang kini terasa nyata. Dian Candra Dewi, salah satu penari muda, menuturkan kebanggaannya menarikan Rejang pada Upacara Saba Ngelemekin, 4 Januari 2026 di Pura Telaga Waja, sebuah momen bersejarah setelah puluhan tahun tarian ini hampir punah. Kadek Intan, sebagai perwakilan daa/daha truni Desa Pedawa, menjelaskan bahwa kini telah dikembangkan kembali tiga Rejang, yaitu: Rejang Sirig Kuri Rejang Pengecek Galuh Rejang Kepet Film ini menegaskan bahwa Rejang Bali Aga Pedawa bukan sekadar tarian, melainkan identitas peradaban, cerminan kesetaraan panjak dewa bahwa manusia memiliki derajat yang sama sebagai hamba Tuhan. Keindahan Rejang tidak terletak pada kemewahan gerak, melainkan pada ketulusan jiwa dan niat ngayah yang diwariskan lintas generasi. Melalui film ini, Tari Rejang Pedawa dihadirkan sebagai simbol harapan: bahwa budaya yang hampir punah dapat kembali hidup ketika dijaga dengan iman, ingatan, dan cinta oleh generasi masa kini dan masa depan.