У нас вы можете посмотреть бесплатно Jejak Islam di Masjid Ar-Rahman Waipare, dari Sumpah Darah hingga Tsunami 1992 или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Di bibir pantai utara Pulau Flores, deru ombak berkejaran dengan semilir angin yang menyentuh pucuk-pucuk kelapa. Di antara rumah-rumah warga Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, berdiri kokoh Masjid Ar-Rahman Waipare, sebuah penanda sejarah masuknya Islam di Bumi Sikka sejak awal abad ke-20. Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah cerita tentang pelayaran, persahabatan, dan persaudaraan lintas budaya yang tumbuh di tepi laut. Bangunan utamanya tampil mencolok dengan atap tumpang berwarna biru cerah dan kubah emas kecil berpuncak bulan sabit dan bintang. Di sisi kanan, menjulang menara tinggi bermotif zig-zag biru-putih dengan kubah cokelat tembaga. Bagi masyarakat setempat, menara itu bukan hanya ornamen arsitektur, melainkan penanda visual bagi para pelaut yang melintas di perairan Sikka, seolah memberi isyarat bahwa di daratan sana, azan akan selalu berkumandang. Sumpah Darah di Tepi Laut Menurut kisah tutur yang diwariskan turun-temurun, Islam hadir di wilayah ini sekitar tahun 1901. Para pelaut dari Gujarat dan Sulawesi, khususnya Bugis, berlayar melintasi Nusantara dan berlabuh di pesisir Kangae. Pertemuan mereka dengan Raja Kangae tidak melahirkan ketegangan, melainkan persahabatan. Muhammad Kadri (66), tokoh masyarakat setempat, menuturkan bahwa hubungan itu bahkan dikukuhkan melalui tradisi unik “minum darah”, sebuah simbol sumpah persaudaraan yang tak terputuskan. "Menurut cerita orang-orang tua sebelum saya, Islam masuk di sini sekitar zaman Belanda hingga Jepang. Para pelaut Bugis yang membawa senjata dari Surabaya berlabuh di sini dan bertemu dengan Raja Kangae," ujar Kadri yang juga pensiunan ASN Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Kamis (19/2/2026). Sebagai tanda penerimaan, Raja Kangae menghibahkan lahan di sepanjang pesisir hingga Tanjung Darat untuk dikelola para pendatang. Di atas tanah itulah permukiman dibangun, dan rumah ibadah sederhana pertama kali didirikan. Masjid awalnya hanya berupa bangunan darurat. Pada awal 1980-an, bentuknya masih sederhana. Namun gempa bumi dan tsunami Flores tahun 1992 merobohkan bangunan lama hingga rata dengan tanah. Dari puing-puing itulah, semangat membangun kembali tumbuh. Waipare, Air dan Kehidupan Nama “Waipare” sendiri menyimpan makna filosofis. Dalam bahasa setempat, wai berarti air dan pare berarti beras. Konon, terdapat sumur dengan air yang tampak seperti air cucian beras, sumber kehidupan bagi masyarakat pegunungan saat musim panen. Seiring waktu, terjadi akulturasi yang alami. Warga asli Waipare dan para pendatang Bugis saling berbaur, membangun keluarga, dan menetap. Kampung itu pun tumbuh sebagai ruang hidup bersama, tempat tradisi dan keyakinan saling menguatkan. Jejak para pionir Islam masih bisa ditemukan melalui makam-makam tua berusia ratusan tahun, salah satunya makam Haji Taning. Bentuk nisannya memiliki kemiripan dengan arsitektur makam kuno di Pulau Jawa, menandakan adanya jejaring dagang dan hubungan antarpulau pada masa lampau. Saksi Bisu Bencana dan Keteguhan Imam masjid, Yusuf Keneng (74), masih mengingat jelas rupa masjid sebelum bencana 1992. Saat pertama kali datang pada 1979, bangunan itu berupa rumah panggung kayu dengan tiang-tiang sederhana. "Waktu saya datang sekitar tahun 1979, masjid ini masih berbentuk rumah panggung kayu dengan tiang-tiang. Namun, begitu gempa bumi dan tsunami Flores menerjang pada tahun 1992, bangunan itu hancur total," tutur Yusuf. “Begitu gempa dan tsunami Flores menerjang, bangunan itu hancur total,” kenangnya. Pasca-bencana, pembangunan kembali masjid dilakukan dengan swadaya masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai nelayan. Tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan luar, warga bergotong royong mengumpulkan dana dan tenaga. Dukungan datang dari tokoh agama dan donatur pribadi, sementara semangat kebersamaan menjadi fondasi utama kebangkitannya. Pengabdian yang Tak Usai Selama lebih dari 25 tahun, Yusuf setia menjadi imam. Di usia senja, ia masih memimpin salat berjemaah di tengah keterbatasan fisik. Amanah itu ia emban sejak sebelum bencana, bahkan ketika masih aktif sebagai pegawai kantor. Kini, Masjid Ar-Rahman Waipare melayani sekitar 900 jiwa atau kurang lebih 300 kepala keluarga. Setiap azan yang berkumandang dari menara zig-zag itu bukan hanya panggilan ibadah, tetapi juga gema sejarah, tentang pelaut yang berlabuh, tentang raja yang bersahabat, dan tentang masyarakat pesisir yang menjaga iman di tengah gelombang zaman. Di tepi laut Flores, Masjid Ar-Rahman Waipare berdiri sebagai saksi bahwa Islam di Sikka tumbuh bukan melalui pertentangan, melainkan lewat persaudaraan.