У нас вы можете посмотреть бесплатно NGABUBURIT MURAH DI Taman Film Warisan Ridwan Kamil yang kini tak Terawat hingga Bau Pesing или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store, untuk dapatkan pengalaman baru. Di bawah kolong jembatan yang lebih akrab disapa Pasopati itu, keriuhan kecil mulai pecah. Suara tawa anak-anak beradu dengan deru kendaraan di atas kepala. Inilah Taman Film, sebuah oase beton yang masih setia menjadi pelarian warga untuk ngabuburit di tengah hiruk pikuk kota. Jumat sore (20/2/2026), Erni tampak sibuk mengawasi buah hatinya yang masih batita. Warga Lembang ini rela menempuh perjalanan jauh sejak pukul 15.00 WIB hanya untuk hiburan murah meriah. Baginya, Taman Film adalah jawaban bagi orangtua yang ingin menyenangkan anak tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. "Ke sini sudah beberapa kali. Ada playground-nya, pas buat anak. Jajanan buat buka puasa juga banyak di sekitar sini," katanya. Taman yang diresmikan pada 2014 di era Ridwan Kamil ini sejatinya dirancang sebagai bioskop terbuka bagi rakyat. Namun, sang 'bintang utama'di taman film, yakni layar raksasa berukuram 4x8 meter tampak membisu. Tak ada lagi pendar cahaya proyektor yang memutarkan film atau video. Layar itu kini hanya menjadi bidang kosong yang menatap hampa ke arah penontonnya. Kondisinya kian mengkhawatirkan. Rumput sintetis hijau yang dahulu empuk dan bersih, kini banyak yang terkelupas dan menganga. Aroma pesing sesekali menusuk hidung, bersaing dengan bau knalpot dari jalan raya. Sampah plastik pun terkadang masih terlihat berserakan, seolah tempat sampah yang disediakan hanya menjadi hiasan belaka. "Suasananya enak, sepi dan enggak seramai Alun-alun atau Braga," kata Boy (48) warga Sekeloa, Coblong, Kota Bandung yang sedang asyik bermain bersama anak dan cucunya. Bagi Boy, Taman Film adalah tempat rekreasi 'mewah' untuk mereka yang mencari ketenangan. Namun, dia tak menampik rasa prihatinnya. Dia sering melihat pengunjung yang masih abai, tetap mamakai sepatu atau alas saat menginjak rumput sintetis, hingga mempercepat kerusakan karpet hijau itu. Sejak revitalisasi terakhirnya pada 2015, Taman Film seolah kehilangan sentuhan kasih sayang. Mural-mural yang dahulu berwarna-warni kini mulai pudar di makan usia dan polusi. Harapan warga hanya satu, agar ruang publik ini tak dibiarkan mati suri. Mega Februari Nandri Prilatama #NgabuburitBandung #TamanFilmBandung #PuasadiBandung #RidwanKamil