У нас вы можете посмотреть бесплатно Social Challenge lagi sebelum berangkat PKL или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Social Challenge lagi sebelum berangkat PKL Seperti tahun² sebelumnya, aku kembali memberi tantangan. Bukan tugas di kertas. Bukan juga lomba nilai. Tapi *social challenge*, tanpa KAIH, tanpa PM. Karena sejak awal aku percaya, pendidikan seharusnya menuntun mereka untuk *terhubung dengan hidup*, bukan hanya lolos dari ujian. Minggu kemarin, satu kelas penuh berdiri di depanku. Mereka memaparkan hasil riset kecil-kecilan: tentang selokan yang mampet, sungai yang penuh sampah, makam yang tak terurus, gardu poskamling yang kotor, tempat ibadah yang mulai sepi kepedulian. Aku mendengarkan. Bukan sebagai penguji, tapi sebagai manusia yang sedang menitipkan masa depan pada mereka. “Apa masalahnya?” “Kenapa itu penting?” “Kalau ide kalian jalan, siapa yang terbantu?” “Dan… kalau tidak kalian yang bergerak, siapa?” Hening. Aku melihat mata-mata muda yang sedang berdialog dengan nuraninya sendiri. Mereka mulai bertanya bukan tentang *boleh atau tidak*, tapi tentang *berguna atau tidak hidupku ini*. Setelah ide² itu kami timbang bersama, manfaat, risiko, dampak, aku mengangguk. Silakan bergerak. Dan mereka benar² turun. Membersihkan gardu. Menyapu makam. Mengangkat sampah sungai. Menguras selokan. Membersihkan tempat ibadah, yang entah kenapa, hampir selalu ada tiap tahun. Mereka belajar bernegosiasi. “Permisi, Pak… kami mau izin.” “Mbah, kami mau bantu bersih-bersih.” Belajar menyampaikan maksud, belajar didengar, belajar ditolak, belajar diterima. Belajar bahwa perubahan tidak pernah datang sendirian. Saat refleksi, satu anak berkata lirih, “Pak, capek… tapi kok senang ya.” Yang lain menyusul, “Ternyata gotong royong itu bikin kerjaan ringan.” Ada yang jujur mengaku, “Saya baru ngerasain, Pak… kalau membantu orang itu bikin bahagia.” Bahkan ada yang diam lama, lalu berkata, “Kayaknya pemuda itu harusnya jadi solusi, bukan masalah.” Aku menahan napas. Inilah pelajaran yang tak tertulis di modul. Lalu seorang guru bertanya padaku, "Pak Ali, apa hubungannya ini dengan mapel panjenengan?” Aku tersenyum. “Terhubung. Karena saya tidak hanya mengajar KIK. Saya berprinsip: *setiap guru adalah guru kehidupan*.” Aku ingin belajar menjadi guru yang berdaulat, bukan guru yang terpenjara pada capaian pembelajaran di selembar kertas. Dulu ini dianggap nyeleneh. Sering dicemooh. Sekarang? Ada 7 KAIH. Ada kokurikuler. Dunia sedang mencari model tatanan lain untuk peradaban manusia, seperti yang dulu kami lakukan dengan naluri tanpa hiruk pikuk surat edaran, kalau bukan kita mau menunggu siapa lagi?. Dan aku makin yakin, falsafah kita sebagai guru harus kembali kesalah satu first principle thinkingnya “Jika sekolah gagal membuat anak merasa hidupnya bermakna, maka setinggi apa pun nilainya, kita sedang mencetak kehampaan.” Karena pendidikan bukan soal apa yang anak hafal, tetapi siapa mereka saat dunia membutuhkan #kembalimendidikmanusia #humanandeducationreset #perjalanangurumeraki #gerakansekolahmenyenangkan