У нас вы можете посмотреть бесплатно JODOH ORGANIK или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
🥗 Menu Hari Ini: DUSTA YANG ESTETIK 👇👇 CICIPIN CERITANYA 👇👇 Cahaya matahari pagi menembus tirai voile putih, jatuh tepat di atas talenan kayu jati yang seratnya terekspos indah. Kamera menyala. Titik merah berkedip. Kinan menahan napas. Tangannya yang lentik, bersih tanpa noda, memegang seikat wortel bayi yang masih ada sisa tanah (buatan) yang estetik. Krek. Suara patahan wortel itu renyah, menggema lembut di mikrofon binaural. Ia tersenyum ke arah lensa. Senyum "Ibu Bumi" yang teduh, seolah-olah hidupnya hanya berisi oksigen murni dan teh herbal. Ia meletakkan wortel itu, lalu mengambil pisau damaskus. Irisan demi irisan jatuh berirama. Tak. Tak. Tak. Simfoni dapur yang menenangkan jutaan pengikutnya. "Selesai." Tangannya menekan tombol stop di kamera. Ia mengelap keringat di dahi dengan lengan baju piamanya yang—jujur saja—sudah tiga hari belum dicuci dan bau apek. "Kinan! Mana kunci inggris Ayah?!" Ayah berdiri di sana. Wajahnya cemong oli, memegang spion patah. Matanya menyapu kamar Kinan yang lebih mirip lokasi bencana alam daripada kamar gadis. "Di laci, Yah. Di bawah tumpukan... anu." "Anu apa?" Ayah melangkah masuk, tapi langsung berhenti saat kakinya menginjak sesuatu yang lengket. Ia mengangkat kaki. Ada bekas permen karet menempel di sandal jepitnya. "Astagfirullah, Kinan. Kamu ini influencer atau pemulung?" Kinan nyengir, mengambil tisu basah dari meja rias yang penuh botol skincare tumpah. "Seniman, Yah. Ini namanya chaos theory." "Teori ndasmu." Ayah menunjuk layar komputer Kinan yang masih menampilkan preview video tadi. Di layar, dapur itu tampak suci dan bersih. "Kamu membohongi satu Indonesia." "Itu bukan bohong. Itu framing." "Bersihkan kamarmu. Nanti sore ada tetangga baru mau syukuran pindahan. Jangan sampai bau kompos kamarmu tercium sampai sebelah." "Tetangga baru?" Kinan kembali duduk di kursi kerjanya, menaikkan satu kaki ke atas meja, tidak peduli ada sisa tanah di telapak kakinya. "Siapa? Ibu-ibu arisan?" "Laki-laki. Muda. Kelihatannya rapi." Ayah berbalik, menghindari tumpukan buku yang nyaris rubuh. "Terlalu rapi. Ayah ngeri lihatnya. "Orang gila." Aroma lavender dan eucalyptus menguar dari diffuser. Tidak ada debu. Tidak ada noda. Garis seprai di kasur lurus sempurna, seakan diukur menggunakan penggaris busur. Arga berdiri di depan jendela lantai dua rumah barunya. Tangannya terbungkus sarung tangan lateks putih. Ia memegang botol semprotan disinfektan seperti memegang pistol. Sret. Sret. Kaca jendela itu sudah bening, tapi Arga melihat satu titik noda imajiner di sudut kanan atas. Ia menggosoknya lagi. Dunia di dalam rumahnya aman. Terkendali. Simetris. Tapi dunia di luar sana... Arga menatap rumah di sebelahnya. Rumah berpagar hijau lumut yang catnya mengelupas. Halamannya penuh tanaman yang tumbuh liar, berebut oksigen. Ada pot-pot pecah yang dijadikan tempat menanam bawang. "Tenang, Arga. Napas." Ia menarik napas dalam, menahannya tiga detik, lalu menghembuskannya. Teknik yang diajarkan psikiaternya pasca-perceraian. Kontrol apa yang bisa kau kontrol. Ia membuka mata, kembali fokus pada kaca jendelanya. Namun, angin berhembus. Membawa aroma yang sangat spesifik dari arah rumah sebelah. Bukan aroma masakan. Bukan aroma bunga. Itu aroma kotoran kambing yang difermentasi. Pupuk kandang. Tangan Arga yang memegang kain lap gemetar. Ia menahan mual. Arga menyipitkan mata. Ia mengenali wajah itu. Ia meraih ponselnya di saku celana bahan yang licin. Membuka aplikasi media sosial. Mengetik satu nama yang sering muncul di Explore-nya karena algoritma "konten penenang jiwa". Kinan_OrganicLife. Di layar ponsel: Video Kinan yang cantik, bersih, memotong wortel dengan cahaya surgawi. Di jendela depan mata: Kinan yang sama, sedang mengupil menggunakan kelingking yang kotor oleh tanah, lalu mengelapkannya ke bawah meja. Arga menurunkan ponselnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum ramah. Itu senyum predator yang menemukan mangsa cacat. "Penipu." "Saya rasa saya baru saja menemukannya, Pak. Investigasi sosial. Judulnya..." Arga melihat Kinan di seberang sana sedang melempar baju kotor ke atas lemari. "...Dusta di Balik Estetika." Arga menutup telepon. Ia mengambil kamera DSLR-nya dari dalam dry box. Lensa tele terpasang. Ia membidik. Di seberang sana, Kinan tidak sadar. Ia sedang asyik menuang sekarung tanah hitam ke tengah-tengah kamarnya—ya, di dalam kamar tidurnya—untuk re-potting tanaman monstera raksasa. Debu tanah beterbangan, menempel di sprei, di gorden, di wajahnya. Cekrek. Gambar tersimpan. Arga melihat hasil fotonya di layar kamera. Tajam. Menjijikkan. Sempurna. "Mari kita lihat, seberapa organik hidupmu saat netizen tahu kau tidur di kandang babi. ----------------------------------- Cinta itu kayak masakan, butuh bumbu yang pas. 📲 *BACA SELENGKAPNYA DI KBM APP / WATTPAD* Judul: JODOH ORGANIK Penulis: Ema IF #JodohOrganik #EmaIF #RomComIndonesia #NovelKuliner #CityBoyVillageGirl #KBMApp #KomediRomantis #CeritaLucu #NovelBaper