У нас вы можете посмотреть бесплатно Cara Mengenal Tuhan dan Diri Sendiri dalam Islam - Jauharatut Tauhid EPS 9 или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Pertemuan Ke-9 (30 Maret 2021) Kajian Kitab Jauharatut Tauhid bersama Ust. Nur Rohmad, Pemateri Bidang Akidah di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur. Penjelasan Matn Jauharah at-Tauhid (11) Melakukan Nazhor (berfikir dan merenung) قَالَ الْمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: 15- فَانْظُرْ إِلَى نَفْسِكَ ثُمَّ انْتَقِلِ # لِلْعَالَمِ الْعُلْوِيِّ ثُمَّ السُّفْلِي 16- تَجِدْ بِهِ صُنْعًا بَدِيْعَ الْحِكَمِ # لٰكِنْ بِهِ قَامَ دَلِيْلُ الْعَدَمِ Pengarang kitab –semoga Allah merahmatinya- berkata: Fikirkanlah tentang dirimu, lalu pindahlah (memikirkan) # alam atas kemudian alam bawah Niscaya engkau akan menemukan penciptaan yang indah tanpa ada contoh sebelumnya # Akan tetapi dengan alam itu, telah tegak tanda bahwa alam (mungkin) tiada Penjelasan: Setelah mu’allif menyebutkan bahwa kewajiban pertama atas mukallaf adalah mengenal Allah menurut pendapat yang paling benar, dan nazhor adalah wasilah (media) untuk sampai kepada ma’rifatullah (Mengenal Allah), lalu mu’allif menjelaskan tentang cara melakukan nazhor. 1. Nazhor (memikirkan dan merenungkan) tentang diri sendiri, karena ia adalah yang paling dekat dengan kita. Asal kita dijadikan oleh Allah dari air mani yang hina. Kita diperintahkan oleh Allah untuk merenungkan keadaan diri kita. Allah ta’ala berfirman: وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (الذاريات: 21) ‘Atha’ dalam menafsirkan ayat di atas mengutip dari Ibnu ‘Abbas: أفلا تبصرون اختلاف الألسنة والصور والألوان والطبائع “Tidakkah kalian merenungkan perbedaan bahasa, bentuk, warna dan tabiat.” 2. Setelah kita melakukan nazhor pada keadaan diri kita, kita beralih melakukan nazhor pada keadaan alam atas dan apa yang ada di sana. Alam adalah segala sesuatu selain Allah. Alam atas adalah awan, matahari, bulan, bintang, langit, kursi, surga, ‘arsy, malaikat dan lain sebagainya. Kita renungkan langit, bintang, matahari, bagaimana ketiganya terbit dan tenggelam, ketiganya bergerak terus menerus pada garis edarnya dengan teratur. Kita renungkan betapa banyak bintang dengan berbagai bentuk dan warnanya. Kita renungkan bagaimana langit berada di ketinggian sana tanpa disangga dengan tiang di bawahnya, dan tanpa diangkat oleh tali di atasnya. 3. Setelah kita nazhor pada diri sendiri dan alam atas, kita beralih untuk melakukan nazhor pada alam bawah. Alam bawah di antaranya adalah bumi dan segala yang ada di bumi, yaitu sungai, laut, gunung, pepohonan, barang tambang dan lain sebagainya. Allah menjadikan bumi sebagai tempat tinggal kita dengan berbagai fasilitas luar biasa yang disediakan: udara yang kita hirup sehingga kita bisa bernafas, air yang tersimpan di dalam perut bumi yang seakan tidak pernah habis, pepohonan dan tumbuhan yang bermacam-macam bentuk, warna, rasa dan baunya, dan lain sebagainya. Setelah kita melakukan nazhor tersebut, pasti kita akan mendapati bahwa: Alam beserta segenap isinya adalah ciptaan yang indah, teratur, kokoh dan menakjubkan serta tidak ada contoh sebelumnya (Allah mewujudkannya dari tiada menjadi ada). Alam pasti memiliki permulaan, ada setelah tiada. Seandainya alam ada tanpa permulaan, maka ia pasti terlepas dari sifat-sifat yang selalu melekat padanya. Dan hal itu mustahil. Karena sebuah benda --yang merupakan bagian dari alam—mustahil terlepas darinya sifat bergerak dan diam dalam satu waktu, misalkan. Faidah: Dikatakan أبدع الأشياء artinya mewujudkannya dari tiada. Bid’ah adalah kata benda dari ibtidaa’, seperti kata rif’ah yang berasal dari irtifaa’. Secara syara’, bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya dalam agama, artinya tidak disebutkan dalam al Qur’an dan hadits. Bid’ah ada lima macam: wajibah, mandubah, muharramah, makruhah dan mubahah. • Di antara bid’ah yang wajib dilakukan secara fardlu kifayah adalah menyusun dalil-dalil yang dilakukan oleh ahli ilmu kalam dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah untuk membantah kelompok yang mengingkari adanya Allah dan kelompok pembawa bid’ah. • Di antara bid’ah yang sunnah dilakukan adalah mengarang buku-buku yang menjelaskan tentang ilmu agama, mendirikan lembaga yang mengajarkan ilmu Ahlussunnah wal Jama’ah. === Yuk, install NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain. ================================= NU Online - Media Resmi Nahdlatul Ulama ► Alamat: • Kantor Redaksi NU Online, Gedung PBNU Lantai 5 Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, 10430. • Email: redaksi@nu.or.id • Telepon: (+6221) 391 4013/14 • Fax: (+6221) 3914013 ► Kunjungi: • https://www.nu.or.id ► Follow: • / nu_online • / nuonline_id • / situsresminu ► Subscribe: • / nuonlineid ================================= #nuonline #nahdlatululama #islam