У нас вы можете посмотреть бесплатно AMBYAR‼️Iran hampir mati, Indonesia kalah terhormat, ini reaksi gila orang Malaysia dan Indonesia😱🔥 или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#viral #timnasindonesia #trending timnas indonesia berita timnas indonesia timnas berita timnas hari ini John Herdman Indonesia vs Malaysia FIFA series 2026 piala AFF 2026 Semua video yang di reaction di screen recording dari Aplikasi Tiktok BANTU SAYA DAPATKAN 100K SUBSCRIBER DENGAN CARA KLIK TOMBOL SUBSCRIBE TERIMAKASIH KLIK GABUNG DAN JADILAH PELANGGAN TETAP DI CHANNEL INI DENGAN BERBAGAI KEUNTUNGAN MENARIK. KLIK LINK DIBAWAH UNTUK BERGABUNG / @fr96tv :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::: Kontak untuk kerja sama/ komplain: Instagram➡️ https://www.instagram.com/feky_ridho?... Narasi dalam video ini : Tangisan di Depan Singgasana Koptagul kali ini semakin pahit. Kekalahan 4-5 (adu penaltu) dari Iran membuat negeri ini semakin sedih. Walau sedih, Timnas Futsal telah membuat negeri ini merasa bangga. Simak narasinya, wak! Malam 7 Februari 2026 akan dikenang bukan sebagai malam kekalahan, tapi sebagai malam ketika harapan bangsa jatuh dengan cara paling menyakitkan. Indonesia Arena berdiri terang benderang, namun di dalamnya, ribuan hati justru gelap. Skor 5–5 membeku di papan, seperti jam yang berhenti berdetak tepat sebelum mimpi menjadi nyata. Lalu adu penalti datang, ritual kejam yang tidak peduli seberapa tulus perjuangan seseorang. Iran menang 5–4. Seketika, satu bangsa belajar arti kalah yang paling perih. Kalah saat sudah sangat dekat dengan takdir terbaiknya. Timnas futsal Indonesia malam itu bukan sekadar tim. Mereka adalah anak-anak yang memikul mimpi terlalu besar untuk bahu yang masih muda. Israr Megantara berlari seperti orang yang menolak menyerah pada sejarah, mencetak hat-trick seolah ingin merobek kitab lama yang menuliskan Iran sebagai raja abadi Asia. Samuel Eko dan Reza Gunawan menambah gol, memperpanjang denyut nadi harapan. Tiga kali Indonesia unggul. Tiga kali pula Iran bangkit dengan napas tersengal. Bahkan raja pun gemetar jika dipaksa berlari terlalu lama. Di pinggir lapangan, berdiri Héctor Souto, lelaki Spanyol yang malam itu menangis dalam bahasa Indonesia. Ia tak berteriak berlebihan. Tak memamerkan ego Eropa. Ia hanya memeluk taktik, disiplin, dan kepercayaan. Di tangannya, futsal Indonesia tidak diajari takut pada nama besar. Iran bukan mitos. Jepang bukan kutukan. Mereka hanyalah lawan yang bisa dilukai, dan malam itu, mereka benar-benar terluka. Ironi paling pahit datang ketika kita menoleh ke cabang olahraga yang paling sering kita puja, sepak bola. Di sana, drama lebih banyak dari gol. Naturalisasi menjelma jalan pintas. Pelatih datang dan pergi seperti tamu tak diundang. Harapan dijual mahal, hasil datang murah. Sementara futsal, sunyi, sederhana, tanpa gembar-gembor, justru membawa bangsa ini ke gerbang sejarah. Para pemain futsal itu lahir di tanah ini. Tumbuh di lapangan yang sama dengan anak-anak kampung. Mereka makan dari dapur rakyat, berdoa dengan bahasa yang sama. Tidak ada paspor cadangan. Tidak ada jalan pintas. Yang ada hanya latihan panjang, kaki lecet, dan keyakinan bodoh bahwa mimpi besar bisa dikejar dengan cara jujur. Saat penalti terakhir gagal, Indonesia Arena tidak meledak, ia retak. Enam belas ribu penonton terdiam bersamaan, seperti baru saja kehilangan sesuatu yang tak bisa diulang. Di media sosial, tangis berubah menjadi kalimat pendek. Karena, air mata terlalu banyak untuk dirangkai. Ada anak kecil yang besoknya minta latihan lagi. Seolah ingin membalas rasa kecewa dengan kerja keras. Ada orang dewasa yang menangis diam-diam, karena untuk pertama kalinya ia benar-benar berharap. Héctor Souto berdiri mematung. Ia tahu, dalam adu penalti, kecerdasan tak lagi berkuasa. Ia sudah membawa Indonesia sejauh mungkin, ke depan singgasana raja Asia. Tinggal satu langkah. Satu tendangan. Tapi takdir memilih kejam, karena sejarah sering meminta pengorbanan sebelum memberi mahkota. Malam itu, Indonesia kalah. Tapi tidak hina. Tidak kecil. Tidak bodoh. Indonesia kalah dalam posisi berdiri tegak, tepat di depan tahta. Justru di situlah air mata ini menjadi penting. Karena bangsa yang bisa menangis atas perjuangan jujur, adalah bangsa yang suatu hari akan menang, tanpa perlu berteriak lagi. Garuda pulang dengan sayap basah. Namun luka itu…adalah tanda bahwa ia sudah belajar terbang terlalu tinggi untuk kembali merangkak. Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar #netizen #netizenindonesia #indonesia #pialadunia2026