У нас вы можете посмотреть бесплатно Cerita Para Kiai - Perjuangan K.H. Khammad Ma’sum Kini Asuh Ponpes di 26 Titik di Semarang или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-VIDEO.COM - Kisah inspiratif datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an Kota Semarang, KH Khammad Ma’sum. Ia dikenal sebagai sosok yang mengabdikan diri untuk pendidikan Al-Qur’an dan pembinaan generasi muda. Dari sebuah pesantren yang dirintis secara sederhana, kini jaringan Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an telah berkembang hingga mencapai 26 titik di berbagai daerah. Perjalanan membangun pesantren tersebut tidak selalu mudah. KH Khammad Ma’sum mengaku banyak pengalaman yang membekas selama mendampingi masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya di pesantren. Salah satu momen yang paling diingat adalah ketika seorang warga datang ke pondok pesantren dengan menaiki becak. Orang tua tersebut membawa anaknya dengan harapan bisa belajar Al-Qur’an dan ilmu agama di pesantren. Namun kondisi ekonomi keluarga itu sangat terbatas. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan akses pendidikan agama yang terjangkau. Karena itu, Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an menetapkan biaya pendidikan yang relatif murah bagi para santri. Biaya yang dipungut dari setiap santri sekitar Rp 80 ribu. Kebijakan ini dilakukan agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap dapat belajar Al-Qur’an dan menimba ilmu agama. Selain pendidikan agama dan tahfidz Al-Qur’an, para santri di pesantren ini juga dibekali berbagai keterampilan lain. Di antaranya keterampilan kewirausahaan dan kemampuan memanfaatkan teknologi digital. Santri diajarkan cara memasarkan produk melalui media sosial. Mereka juga dikenalkan dengan aktivitas berdagang secara daring, termasuk melalui fitur siaran langsung atau TikTok Live. Selain itu, santri juga dilatih mengelola usaha kecil berbasis pesantren. Tujuannya agar para santri memiliki bekal kemandirian ekonomi sejak dini. Model pendidikan ini memadukan nilai keislaman dengan keterampilan praktis yang dibutuhkan di era digital. Dengan pendekatan tersebut, pesantren diharapkan tidak hanya mencetak generasi yang kuat secara spiritual. Namun juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tantangan ekonomi di masa depan. Hingga kini, Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an terus berkembang dan menjadi salah satu pusat pendidikan serta dakwah di berbagai daerah. Kisah perjuangan ini menunjukkan bahwa pesantren juga dapat menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Simak kisah lengkapnya dalam video berikut. (Tribun-Video.com)