У нас вы можете посмотреть бесплатно Raja Intel Berwajah Dingin dengan Tatapan Tajam Menghujam или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Raja Intel Berwajah Dingin dengan Tatapan Tajam Menghujam Tatapannya tajam menghujam. Wajahnya dingin jarang tersenyum. Siapapun yang bertatapan dengannya akan sedikit gemetar. Apalagi ketika dia masih begitu berkuasa. Siapa dia? Dia adalah Jenderal Leonardus Benyamin Moerdani atau dikenal dengan panggilan Jenderal Benny Moerdani. Ya, Jenderal Benny Moerdani adalah jenderal yang dikenal dengan tatapannya yang tajam. Jenderal yang berwajah dingin. Dia juga nyaris tanpa senyum. Jenderal Benny Moerdani adalah jenderal yang karir militernya banyak malang melintang di dunia intelijen. Dunia militer yang penuh kerahasiaan. Meski begitu, Benny juga adalah prajurit tempur yang kenyang makan asam garam pertempuran. Bahkan ketika revolusi kemerdekaan bergolak, pada usia 13 tahun, Benny sudah ikut angkat senjata. Ketika Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal TNI dibentuk, Benny bergabung dengan Tentara Pelajar yang berada di bawah otoritas dari Brigade TKR. Dari brigade ini, Moerdani mengambil bagian dalam revolusi kemerdekaan melawan Belanda. Dia terlibat dalam sebuah serangan umum yang sukses di Solo. Kemampuan tempur Benny mulai di asah dengan tajam, ketika ia masuk Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), kesatuan pasukan yang sekarang bernama Kopassus. Bersama RPKAD, Benny pernah diterjunkan ke rimba Papua dan terlibat pertempuran dengan tentara Belanda. Ketika itu, Indonesia sedang berupa merebut kembali Irian atau kini bernama Papua yang masih dikuasai Belanda. Karena prestasinya di Irian, Benny dianugerahi Bintang Sakti. Dia sempat ditawari Bung Karno, Presiden Indonesia saat itu untuk jadi Komandan Cakrabirawa. Tapi, tawaran itu ditolaknya, karena Benny ingin tetap di RPKAD. Masih bersama RPKAD, Benny juga pernah terlibat langsung memimpin pasukan dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta. Namun karena terlibat perselisihan dengan Komandan RPKAD, Kolonel Mung Parahadimulyo, Benny yang ketika itu sudah jadi Mayor dan sedang menjabat komandan batalyon di RPKAD, terbuang ke Kostrad. Dia dipindahkan oleh Letjen Ahmad Yani, Menteri Panglima Angkatan Darat saat itu ke Kostrad. Sempat tak punya jabatan di Kostrad, akhirnya Benny direkrut Letkol Ali Murtopo, perwira intelijen Kostrad. Dia lantas dilibatkan dalam operasi intelijen yang dipimpin Ali Murtopo, terutama dalam rangka operasi Dwikora atau masa konfrontasi dengan Malaysia. Sejak saat itulah karir Benny malang melintang di dunia yang penuh rahasia. Dunia intelijen. Dunia yang kelak mengantarkan Benny ke puncak karirnya di TNI. Sampai kemudian Soeharto berkuasa. Di era Soeharto berkuasa, Benny mulai dapat kepercayaan dari Soeharto. Bahkan jadi salah satu jenderal yang begitu dipercaya Soeharto. Di masa Soeharto pula, Benny jadi tokoh militer yang sangat berpengaruh. Terutama di bidang intelijen. Pasca peristiwa Malari tahun 1974, Benny yang ketika itu masih bertugas di luar negeri, ditarik Soeharto ke Indonesia. Oleh Presiden Soeharto, Benny diserahi tugas membenahi koordinasi intelijen. Sejumlah jabatan strategis di bidang intelijen pun diserahkan kepada Benny, antara lain jabatan Asisten Intelijen Menteri Pertahanan dan Keamanan, Asisten Intelijen Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), Kepala Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat), dan Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin). Dengan seabrek jabatan strategis itu, membuat Benny jadi perwira yang punya kekuasaan besar. Puncak karirnya di TNI terjadi pada bulan Maret 1983. Benny ditunjuk Presiden Soeharto sebagai Panglima ABRI. Benny jadi jenderal penuh. Tak hanya posisi Pangab yang dipegangnya saat itu. Benny juga memegang jabatan Pangkopkamtib. Benny juga ketika itu masih memegang jabatan sebagai Kepala Pusintelstrat yang kemudian berganti nama menjadi Badan Intelijen Strategis (BAIS). Maka, makin besar kekuasaan Benny di militer. Kekuasaan Benny mulai meredup pada tahun 1988, saat Soeharto lebih memilih Soedharmono sebagai Wapres. Ketika itu, muncul isu Benny tengah membangun kekuatan untuk jadi Presiden. Pencalonan Soedharmono sendiri ketika itu tak begitu disukai kalangan jenderal ABRI. Benny dianggap ada dibalik itu. Sejak saat itu, hubungan Benny dengan bosnya, Soeharto, mulai memburuk. Benny dicopot dari jabatannya sebagai Panglima ABRI. Lalu lembaga Kopkamtib dibubarkan. Benny lantas digeser ke jabatan Menhankam. Lalu di tubuh ABRI, para perwira yang disebut punya kedekatan dengan Benny, mulai tersingkir dari jabatan strategis. Sejak saat itulah, pengaruh Benny mulai meredup di tubuh ABRI. Pada Minggu 29 Agustus 2004, pukul 01.00 WIB, Jenderal kelahiran Cepu, Blora Jawa Tengah pada tanggal 2 Oktober 1932 ini meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. #tni #tniad #kopassus