У нас вы можете посмотреть бесплатно PROSESI PERLON UNGGAHAN Menyambut bulan puasa di Komunitas Bonokeling Pekuncen Jatilawang или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
PROSESI PERLON UNGGAHAN Menyambut bulan puasa di Komunitas Bonokeling Pekuncen Jatilawang Masyarakat adat Bonokeling menggelar prosesi tradisi Unggah-unggahan di Banyumas, Jawa Tengah, pada 21 Februari 2025. Unggah-unggahan merupakan tradisi selamatan kepada leluhur masyarakat adat Bonokeling di Banyumas, Jawa Tengah. Tradisi Unggah-unggahan biasanya dilaksanakan pada hari Jumat terakhir menjelang bulan Ramadan. Masyarakat adat Bonokeling dari berbagai lokasi berjalan kaki sekitar 40 km selama dua hari untuk berkumpul berziarah di pemakaman Bonokeling. Mereka berjalan kaki dengan membawa berbagai macam hasil bumi di antaranya hewan ternak, beras, dan makanan ringan untuk dimasak dan dibagikan sebagai cara untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Kiai Bonokeling adalah tokoh spiritual yang menurunkan ajaran atau tradisi Perlon Unggahan. Komunitas Adat Bonokeling melakukan tradisi tersebut sebelum bulan Ramadhan di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas. Ketua Komunitas Adat Bonokeling Kiai Sumitro menyampaikan Kyai Bonokeling merupakan seorang patih dari Kerajaan Pasir Luhur yang pindah ke Desa Pekuncen Jatilawang. Dikutip dari banyumas.suaramerdeka.com, Bonokeling dulunya patih yang berasal dari Pasir Luhur yang pindah ke Desa Pekuncen. "Sebelumnya ia selalu pindah desa ganti nama, pindah desa ganti nama, makanya 1 orang bisa jadi 10 nama, dulunya belum masuk Islam, saat disini lama-kelamaan masuk Islam, maca kalimat syahadat," kata Sumitro. Mengingat wilayah Pekuncen masih hutan, jadi Bonokeling ini langsung among tani dan untuk mulai bercocok tanam atau panen harus mengadakan selametan. Bonokeling adalah nama samaran yang memiliki tafsir "bono" yang artinya wadah dan "keling" yang berarti hitam. Nama Bonokeling menjadi identitas bagi komunitas yang mengikuti ajaran tersebut. Menurut Sumitro, makna dari tradisi Unggah-unggahan dan Perlon (keperluan) yang digelar menjelang bulan puasa tidak lain adalah kegiatan masyarakat adat berziarah ke makam leluhur. Hal ini merupakan bentuk penghormatan dari Trah Cilacap dan untuk mempererat tali silaturahmi serta sebagai bentuk pembersihan diri sebelum bulan suci Ramadhan tiba. Dalam tradisi ini bermakna, merujuk pada kebutuhan manusia dan Tuhan, bukan sebaliknya yang mencerminkan kesadaran akan ketergantungan manusia pada Sang Pencipta. Dalam tradisi Unggah-unggahan, biasanya orang Cilacap berjalan kaki menuju Pekuncen, Banyumas tanpa menggunakan alas kaki. Tahun ini, anak putu pengikut Bonokeling yang datang dari Trah Cilacap memulai tradisi tersebut dengan berjalan kaki menuju Pekuncen Banyumas pada Kamis 20 Februari 2025 lalu. Setelah puncak ritual, Jumat 21 Februari, mereka akan pulang pada Sabtu 22 Februari 2025 ini. "Jalan kaki dari sana menuju ke sini namanya Napak Tilas, ini bermakna manusia harus menyatu dengan alam karena manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah," imbuhnya. Dalam tradisi ini banyak sekali hewan ayam, kambing, dan sapi yang disembelih (kurban) yang dibawakan oleh orang Cilacap. "Satu Bedogol satu hewan yang dibawa secara ikhlas dengan jenis kelamin hewan laki-laki, setelah dimasak malamnya dimakan bersama untuk selamatan," paparnya. Masyarakat Adat Bonokeling menganggap laki-laki maupun perempuan itu setara. Setelah puncak ritual, Jumat 21 Februari, mereka akan pulang pada Sabtu 22 Februari 2025 ini. "Jalan kaki dari sana menuju ke sini namanya Napak Tilas, ini bermakna manusia harus menyatu dengan alam karena manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah," imbuhnya. Dalam tradisi ini banyak sekali hewan ayam, kambing, dan sapi yang disembelih (kurban) yang dibawakan oleh orang Cilacap. "Satu Bedogol satu hewan yang dibawa secara ikhlas dengan jenis kelamin hewan laki-laki, setelah dimasak malamnya dimakan bersama untuk selamatan," paparnya. Masyarakat Adat Bonokeling menganggap laki-laki maupun perempuan itu setara. Dalam Tradisi ini, laki-laki bertugas sebagai juru masak sementara kaum wanita berdoa di makam. Saat mengikuti tradisi ini, bagi laki-laki harus menggunakan baju hitam, blangkon, jarit. Untuk perempuan menggunakan jarit dan selendang putih, namun jika hanya penonton harus memakai atasan hitam. Baju hitam bermakna kelanggengan dan masyarakat awat juga mempertahankan nilai kejawen dengan tidak memakai kerudung saat ziarah ke makam. Tradisi ini diwariskan dari generasi ke generasi. Komunitas ini memiliki 1 juru kunci dan 5 Bedogol atau pembantu juru kunci dan masing-masing bedogol punya anggota atau anak putu. Tradisi ini bisa diwariskan ke anak-anaknya namun tidak dilakukan dengan terpaksa. "Jangan sampai menodai tradisi kita dan tidak menolaknya. Marilah bekerja sama untuk melestarikan budaya lokal yang mendunia," katanya.