У нас вы можете посмотреть бесплатно 04 OWNERSHIP & CONTROL (Kepemilikan dan Pengendalian) или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Teori hak properti menekankan bahwa kepemilikan sumber daya (seperti lahan) tidaklah monolitik, melainkan terdiri dari sekumpulan hak (bundle of rights). Dalam konteks lahan, bundle of rights mencakup hak untuk menggunakan lahan, mengambil manfaat atau pendapatan darinya, mengalihkan atau menjual lahan, mengecualikan pihak lain dari penggunaannya, serta memperoleh nilai ekonomi atas lahan tersebut. Ketika semua hak ini terdefinisi dan terjamin secara legal, pemilik lahan memiliki insentif kuat untuk mengelola sumber daya secara produktif dan berkelanjutan. Hak milik yang aman mendorong investasi jangka panjang – misalnya, petani akan bersedia melakukan konservasi tanah atau menanam tanaman tahunan jika ia yakin dapat menikmati hasilnya di masa depan. Dari sudut pandang ekonomi kelembagaan, kejelasan dan penegakan hak properti berhubungan erat dengan efisiensi alokasi sumber daya. Hak milik privat yang kuat cenderung meminimalkan masalah externality dan free rider yang umum pada kepemilikan komunal atau akses terbuka. Sebagai ilustrasi, pada lahan milik pribadi, petani yang menggarap lahannya sendiri akan mendapatkan seluruh manfaat dari tambahan usaha atau input yang ia berikan. Sebaliknya, pada lahan garapan bersama tanpa batas hak yang jelas, peningkatan hasil dari kerja keras seseorang dapat dinikmati oleh orang lain, sehingga setiap individu terdorong mengurangi upayanya (effort dilution). Insentif yang melemah akibat kemungkinan free-riding ini menyebabkan alokasi sumber daya menjadi tidak efisien – fenomena yang dipopulerkan sebagai “tragedy of the commons” oleh Hardin (1968). Dengan demikian, pemberian hak eksklusif (privatisasi) atau aturan kolektif yang jelas sering diperlukan untuk memastikan sumber daya lahan tidak dieksploitasi secara berlebihan dan digunakan oleh pihak yang paling menghargainya.