У нас вы можете посмотреть бесплатно NASIB TRAGIS Helmi Saragih, Anak Diduga Meninggal Akibat Malapraktik Rumah Sakit di Medan❓ или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Helmi Saragih, warga Desa Purba Tongah, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, tak kuasa membendung air mata mengingat kepergian anaknya, Jesicca Sipayung. Duduk di kursi plastik, dibawah pohon jati, wanita berusia 31 tahun ini tak henti-hentinya menangis menceritakan detik-detik anaknya meninggal dunia. Mulai dari demam, gelisah, ketakutan sampai buang air besar (BAB) sampai akhirnya nyawanya melayang. Bahkan, ia ingat betul permintaan terakhir anaknya di tengah ketakutan menghantui, sebelum meninggal dunia. Helmi mengatakan, Jessica, 2 tahun diduga meninggal dunia akibat malapraktik dokter, maupun tenaga kesehatan di salah satu rumah sakit swasta, di Jalan H Misbah, Kecamatan Medan Maimun. Ia menduga ada kelalaian dari tenaga kesehatan, maupun dokter yang menangani anaknya. Dalam kasus ini ia melaporkan RS Santa Elisabeth Medan, atau dokter Nelly Saurma Simarmata, dengan bukti nomor laporan LP/B/434/III/2026/Polda Sumut tanggal 16 Maret 2026. "Dokternya yang dilaporkan, karena atas izin dokter, karena susternya menyuntik atas izin dokter, gitu," kata Helmi Saragih, Senin (16/3/2026). Sambil berlinang air mata, berbicara terbata-bata, Helmi menceritakan awal mula anaknya Jesicca Sipayung tewas. Pada Jumat 2 Januari 2026 lalu, Jesicca demam tinggi, dan ia sempat dibawa ke klinik. Namun karena klinik tak bisa menangani, akhirnya dirujuk ke RS Santa Elisabeth Medan. Sesampainya di rumah sakit, dan diperiksa, demam Jesicca mencapai 40 derajat celsius, dan dilanjutkan diberi obat melalui anus. Usai diberikan obat demam yang semula tinggi mulai menurun. Esok harinya, karena dianggap mulai membaik, Helmi menayangkan ke pihak rumah sakit apakah anaknya boleh pulang atau tidak. Kemudian, lanjut Helmi, pihak rumah sakit melarang anaknya pulang, dan bilang kalau tetap mau pulang, fasilitas BPJS akan dinonaktifkan. "Akhirnya kami mengikuti peraturan rumah sakit, dan kami percaya bahwa anak kami nanti bakalan sembuh." Sekitar pukul 12:00 WIB, dokter bernama Nelly Saurma Simarmata menyampaikan kalau Jesicca terkena penyakit demam berdarah (DBD). Lalu sore harinya, perawat disebut menyuntikkan cairan kepada Jesicca, dan bilang akan ada efek samping yaitu lemas. "Setelah itu, sekitar sore, perawat ada menyuntikkan Jessica. Dia, perawat itu, ngomong gini, Bu, ini nanti efeknya lemas ya, Bu. Ibu jangan khawatir. Perawatnya ngomong gitu," katanya menirukan. Beberapa jam setelah disuntik, kondisi Jesicca mulai berubah. Awalnya dibilang ada efek samping lemas, malah sebaliknya. Anak 2 tahun itu justru gelisah, dan rewel. Ketika Helmi menanyakan kepada pihak rumah sakit, disebut tidak ada jawaban. "Tapi, setelah beberapa lama prosesnya, ternyata yang dirasakan Jessica bukan lemas, malah sebaliknya. Dia gelisah, dia nggak bisa tidur, dia rewel terus gitu,"ucapnya. "Dan, saat itu saya ngomong, "Suster, ini kenapa kok gini, mereka tidak ada jawaban," sambungnya. Esok harinya, tanggal 4 Januari, kondisi Jesicca disebut semakin memburuk. Ia seperti sesak nafas, wajahnya membengkak, juga bagian perutnya kembung. Sampai akhirnya ia dipasang selang oksigen untuk bernafas. "Saat tanggal 4, perubahannya semakin memburuk, seperti kayak sesak bernafas, mukanya pun sudah bengkak-bengkak gitu, dan mereka tidak ada sama sekali mengatakan apapun dari pihak rumah sakit. Sehingga dipasanglah oksigen karena keadaannya seperti sudah mulai agak parah." urainya. Hari selanjutnya, 5 Januari, Jesicca dirontgen dan pihak rumah sakit menyatakan ada cairan di dalam paru-parunya, lalu disarankan masuk ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Reporter : Fredy Santoso Editor Video : M Andimaz Kahfi Bergabung dengan channel ini untuk mendapatkan akses ke berbagai keuntungan: / @tribunmedantv Baca selengkapnya di www.tribun-medan.com #TribunMedan #anak #malapraktik #rumahsakit #medan