У нас вы можете посмотреть бесплатно Penjara Bukan Akhir: Tentang Salah, Taubat, Air Mata, dan Kesempatan Kedua | NGOCAK FEBBY или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
TRIBUN-VIDEO.COM - Di balik tembok tinggi dan kawat berduri Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Jakarta, kehidupan berjalan dalam ritme yang berbeda. Di sana, bukan hanya ada angka statistik dan vonis hukum. Ada manusia. Ada kesalahan. Ada penyesalan. Dan ada air mata. Kapasitas lapas ini sejatinya hanya untuk 1.080 orang. Namun hari ini dihuni lebih dari 2.000 jiwa. Bahkan ketika Syarpani, pertama kali datang menjabat sebagai Kepala Lapas, jumlahnya mencapai 2.500 orang. Di balik overkapasitas itu, tersimpan kisah tentang salah, taubat, dan kesempatan kedua. Dalam wawancara eksklusif bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra, Senin (2/3/2026), Syarpani menegaskan sikap tegas zero tolerance terhadap narkoba dan handphone. Ratusan pelanggaran ditindak. Namun di balik ketegasan itu, ia memilih satu pendekatan sederhana namun tak mudah: “Membina narapidana pakai hati.” Baginya, penjara bukan sekadar tempat menghukum, tetapi ruang untuk memperbaiki diri. Pendekatan itu tak selalu mudah. Ada kisah yang meninggalkan kenangan mendalam yang masih melekat dalam diri Syarpani. Seorang narapidana yang telah berubah, rajin beribadah, dan tinggal menunggu bebas, justru dipanggil lebih dulu oleh Tuhan. Di situlah air mata seorang kepala lapas jatuh. Namun dari balik jeruji pula, lahir kisah-kisah pertobatan- menemukan cahaya dan kembali mendekat pada Tuhan di balik jeruji. Teguran yang Mahal Di salah satu blok, Ramdani, Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta menghabiskan hari-harinya sebagai pengurus masjid lapas. Tiga tahun menjalani hukuman membuatnya banyak merenung. “Masjid adalah tempat menyatukan pikiran dan menenangkan hati,” katanya. Baginya, penjara adalah teguran keras dari Tuhan. “Jangan sampailah kita semua terjerumus di dalam lembah hitam narkoba. Sebelum Allah tegur kalian di luar sana, lihatlah kami yang ada di sini. Inilah kami yang sudah Allah tegur keras, kami baru sadar dan bertaubat di sini. Jangan sampai masyarakat harus menunggu ditegur oleh Allah (masuk penjara) baru mau berbenah diri." Pesan serupa datang dari Anggoro, yang divonis 15 tahun. Di dalam lapas, ia belajar membaca Al Quran dari nol. Kini ia rutin bangun pukul tiga pagi untuk tahajud. “Yang belum kenal narkoba, jangan coba-coba kenal. Yang sudah kenal, buruan lari atau terlepas dari itu. Karena seenak-enaknya orang yang hidup dengan lingkungan gelap, ujung-ujungnya akan pahit juga. Jangan sampai banyak orang yang merasakan apa yang saya rasakan di sini.” Di balik jeruji, mereka belajar tentang kehilangan—kehilangan kebebasan, waktu, dan pelukan keluarga. Namun di tempat yang sama, sebagian menemukan cahaya yang tak pernah mereka cari sebelumnya. Penjara bukan akhir. Tetapi akan jauh lebih baik jika manusia tak perlu masuk ke dalamnya untuk belajar tentang taubat. Saksikan kisah lengkapnya dalam wawancara eksklusif hanya di YouTube Tribunnews! Program: Wawancara Eksklusif Host: Febby Mahendra Putra Editor Video: Ridho Hendrikos Kru: Reza Arief Darmawan dan Lendy Ramadhan Uploader: Srihandriatmo Malau #lapas #cipinang #penjara #narapidana #narkotika #jakartatimur #wargabinaan Transkrip Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru. Ikuti juga informasi melalui akun media sosial dan website kami: Website : https://cirebon.tribunnews.com Instagram: / tribuncirebondotcom Twitter : / tribun_cirebon Facebook : / tribuncirebon Tiktok : / tribuncirebon.com