У нас вы можете посмотреть бесплатно Kajian Filsafat | Filosofi al-Maḥfūẓāt “Afātu al-‘Ilmi Nisyānun” или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Kajian Filsafat | Filosofi al-Maḥfūẓāt “Afātu al-‘Ilmi Nisyānun” “Bencana ilmu adalah lupa.” Ungkapan klasik Afātu al-‘Ilmi Nisyānun mengingatkan bahwa lupa bukan sekadar kelemahan ingatan, melainkan bencana intelektual yang diam-diam menggerogoti peradaban manusia. Ilmu yang hilang dari ingatan bukan hanya kehilangan personal, tetapi juga kehancuran nilai, pengalaman, dan kebijaksanaan yang seharusnya diwariskan. Dalam perspektif filsafat pengetahuan, ilmu tidak cukup hanya diperoleh; ia harus dijaga, dirawat, dan dihidupkan dalam kesadaran. Ketika ilmu dilupakan, maka lenyaplah hasil jerih payah akal manusia (seolah ribuan jilid kitab terhempas dan hilang tanpa bekas). Lupa, dalam hal ini, adalah musuh laten dari nalar. Secara ilmiah, bencana lupa menjadi semakin ironis jika dibandingkan dengan kapasitas otak manusia. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa otak bukanlah wadah yang sempit. Berdasarkan riset Terry Sejnowski dari Salk Institute, kapasitas penyimpanan otak manusia diperkirakan mencapai 1 petabyte (1.000 terabyte) angka yang melampaui kebanyakan sistem penyimpanan teknologi modern. Setiap sinapsis saraf mampu menyimpan sekitar 4,7 bit informasi, dan otak manusia memiliki sekitar 1.000 triliun sinapsis. Artinya, manusia dianugerahi potensi ingatan yang luar biasa, bahkan: • seluruh karya tulis umat manusia sepanjang sejarah diperkirakan hanya setara ±50 petabyte, • sementara data yang diproses Google setiap hari sekitar 20 petabyte. Namun, kapasitas besar ini tidak otomatis menjamin keberlangsungan ilmu. Tanpa pengulangan, refleksi, dan pengamalan, ilmu tetap rapuh. Di sinilah filsafat memberi peringatan penting: lupa bukan masalah biologis semata, tetapi juga kegagalan etis dan intelektual. Dalam kajian ini, Dr. Ramdon Dasuki menegaskan bahwa menjaga ilmu adalah bagian dari tanggung jawab manusia sebagai makhluk berakal. Ilmu yang tidak diingat, tidak direnungkan, dan tidak diamalkan akan berubah menjadi pengetahuan mati—ada secara potensi, tetapi nihil secara makna. Maka, lupa adalah bencana bukan karena otak manusia terbatas, melainkan karena manusia lalai merawat ilmunya. Dan di titik inilah, menjaga ingatan menjadi laku kebijaksanaan, bukan sekadar latihan memori. #KajianFilsafat #AfatulIlmiNisyanun #FilsafatIlmu #FilsafatPengetahuan #IlmuDanIngatan #HikmahKlasik #FilsafatIslam #DrRamdonDasuki #RenunganIntelektual #EtikaIlmu #KesadaranAkal #PeradabanManusia #ChannelPeradabanIndonesia