У нас вы можете посмотреть бесплатно MUALAF INI TETAP SHALAT MESKI MUKENA DIBAKAR IBUNYA или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Keputusan itu ia ambil diam-diam. Tanpa pengumuman. Tanpa perayaan. Ia mengucap dua kalimat syahadat dengan tangan gemetar dan air mata yang jatuh tak tertahan. Bukan karena ragu—tetapi karena ia tahu, setelah hari itu, hidupnya takkan pernah sama. Di kampung halamannya, agama bukan sekadar keyakinan. Ia adalah identitas, warisan, dan harga diri keluarga. Ketika kabar ia masuk Islam mulai tercium, bisik-bisik berubah menjadi tatapan tajam. Senyum tetangga menghilang. Pintu-pintu yang dulu terbuka kini tertutup rapat. Ancaman itu datang perlahan. Dari kata-kata halus yang menyakitkan, hingga peringatan keras yang membuat dadanya sesak. “Kamu mempermalukan keluarga.” “Kalau masih di sini, jangan harap aman.” Ia mencoba bertahan. Meyakinkan diri bahwa kebenaran pantas diperjuangkan. Tapi malam itu, seorang sahabat berbisik lirih, “Pergilah. Demi keselamatanmu.” Dengan satu tas kecil dan pakaian seadanya, ia meninggalkan kampung halaman yang membesarkannya. Tak ada pelukan perpisahan. Tak ada doa dari keluarga. Hanya langkah kaki yang gemetar di bawah gelapnya malam. Ia kabur—bukan karena takut pada Islam, tapi karena ingin menjaga imannya. Di kota yang asing, ia memulai hidup dari nol. Tidur berpindah-pindah. Kadang di masjid, kadang di sudut rumah orang baik yang tak ia kenal sehari sebelumnya. Shalatnya masih terbata. Bacaan Al-Qur’annya masih tersendat. Tapi hatinya teguh. “Ya Allah, aku kehilangan rumahku… tapi aku tak ingin kehilangan-Mu.” Rindu kampung halaman sering datang tanpa diundang. Aroma tanah, suara malam, wajah ibu—semuanya menghantui sujudnya. Namun setiap kali azan berkumandang, ia kembali yakin: jalan ini berat, tapi benar. Kini, ia hidup jauh dari tempat kelahirannya. Namanya mungkin dicoret dari silsilah keluarga. Tapi di langit, namanya ditulis sebagai hamba yang memilih iman di atas segalanya. Inilah kisah mualaf yang harus kabur dari kampung halamannya. Bukan karena kejahatan. Bukan karena dosa. Melainkan karena ia memilih Islam—dan siap membayar harga dari pilihan itu.