У нас вы можете посмотреть бесплатно Brimob Aniaya Pelajar hingga Tewas, Reformasi Polri Jalan di Tempat SATU MEJA или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
JAKARTA, KOMPAS.TV - Dalam program Satu Meja, Staf Ahli Polri, Aryanto Sutadi mengaku prihatin. Menurutnya, semangat transformasi memang ada di tingkat pusat, bahkan sudah dibentuk tim percepatan reformasi internal. Tetapi problem terbesar justru berada di lapangan. Ia menyebut, sembilan tuntutan masyarakat terhadap Polri—mulai dari lemahnya pengawasan, perilaku arogan, budaya hedonis, hingga pelayanan lambat—sebenarnya sudah dijawab secara konseptual. Namun persoalannya, konsep itu belum diterjemahkan menjadi petunjuk taktis yang mudah dipahami anggota di lapangan. Sementara itu Pengamat Kepolisian, Muradi menilai persoalan tak hanya soal teknis, tetapi juga kultur. Ia menyebut kultur militeristik dan pola komando vertikal masih kental, sehingga anggota di bawah menjadikan pimpinan sebagai rujukan utama. Dari perspektif akademik, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Sulistyowati Irianto menyoroti aspek budaya hukum. Ia menilai polisi adalah refleksi masyarakat. Namun sebagai aparat negara, polisi harus menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan kekuasaan. Kasus kekerasan yang dilakukan personel Brimob di Tual, Maluku, kembali mencoreng Institusi Polri. Peristiwa ini menambah daftar panjang dugaan kekerasan yang melibatkan aparat. Di sisi lain, kasus narkoba yang menyeret mantan Kapolres Bima semakin memperburuk citra kepolisian di mata publik. Bagaimana menurut Anda? Selengkapnya saksikan di sini: • [FULL] Pelajar Tewas di Tual, Kasus Narkob... #polisi #reformasi #kapolri