У нас вы можете посмотреть бесплатно Pakar ITB Menganalisis Penyebab Longsor Cisarua, Singgung Pola Berkebun Nenek Moyang или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru. Baca berita selanjutnya: https://kaltim.tribunnews.com/tribun-... Pakar Hidrodinamika ITB, Muslim Muin, menyampaikan analisanya soal penyebab longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026), dini hari. Muslim menuturkan, salah satu penyebab longsor di Desa Pasirlangu adalah karena run off di kawasan tersebut terlalu besar. Run off adalah fenomena ketika air hujan tidak dapat meresap secara maksimal ke dalam tanah, sehingga mengalir di permukaan. Fenomena itu terjadi disebabkan karena kawasan hutan berganti fungsi menjaidi permukiman dan perkebunan. "Ada yang disebut run off, air yang mengalir di permukaan tanah. Kalau hutan dibabat, berubah jadi permukiman atau apa saja, perkebunan, itu run off-nya jd besar dan menimpa daerah yang longsor tadi," jelas Muslim dalam tayangan KompasTV, Minggu (25/1/2026), dikutip Tribunnews.com. Ia lantas menyinggung pola berkebun nenek moyang yang terbukti bisa meminimalisir terjadinya longsor di kawasan lereng. Muslim mengatakan, pada zaman nenek moyang, perkebunan dibuat dengan model terasering. Terasering adalah teknik pengelolaan lahan miring yang melibatkan pembuatan serangkaian undakan atau teras yang sejajar dengan kontur lereng. Salah satu tujuannya adalah memperlambat aliran hujan sehingga meminimalisir bencana banjir dan longsor. "Kalau terasering, air itu kan ketangkep, mengalirnya pelan-pelan. Kalau sekarang, hutan dibabat meniru cara Eropa." "Eropa itu dia nggak bikin terasering, jadi jangan bangga dengan pola perkebunan Eropa. Kita harus membuat perkebunan, termasuk di daerah longsor, dibuat secara terasering," tutur dia. Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung, Teguh Rahayu, mengatakan curah hujan tinggi di Kabupaten Bandung Barat menjadi salah satu pemicu terjadinya longsor. Sehari sebelum kejadian, Jumat (23/1/2026), curah hujan di Kabupaten Bandung Barat tercatat pada kategori ekstrem. Menurutnya, longsor memang dipengaruhi oleh banyak faktor, namun hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang panjang menjadi pemicu dominan. Hingga Minggu (25/1/2026) siang, sebanyak 12 kantong jenazah telah dievakuasi dari timbunan material longsor di Desa Pasirlangu. Temuan tersebut telah diserahkan ke Tim DVI Polri untuk proses identifikasi lebih lanjut. "Dari jumlah tersebut, 6 jenazah sudah teridentifikasi dan telah diserahkan kembali kepada pihak keluarga," ujar Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, di lokasi pengungsian, Minggu, dikutip dari TribunJabar.id. Editor: Jofan Giantirta Uploader: Jofan Giantirta #longsor #cisarua #bandungbarat #ITB #jawabarat #cuacaekstrem #korbanlongsor #evakuasikorban 0:00 Pakar ITB Singgung Pola Berkebun Nenek Moyang 2:19 Curah Hujan Turut Jadi Pemicu 5:27 Update Korban Longsor