У нас вы можете посмотреть бесплатно Lewat Gaslah, Kota Bandung Targetkan Jadi Kota Pertama Bereskan Sampah dari RW или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Lewat ‘Gaslah’, Bandung Bertekad Jadi Kota Pertama Bereskan Sampah Berbasis Wilayah Pemerintah Kota Bandung mendorong penanganan sampah di Kota Bandung kini harus bertumpu pada kekuatan wilayah. Hal ini menyusul pengurangan jatah pembuangan sampah ke TPA Sari Mukti sebesar 20 persen atau sekitar 300 ton per hari, yang berpotensi menimbulkan penumpukan sampah harian di Kota Bandung. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyebut, kondisi ini membuat Pemkot Bandung harus bergerak cepat dengan strategi baru yang berbasis RW. Salah satu andalannya adalah program Gaslah atau Petugas Pemilah, yang diposisikan sebagai garda terdepan penanganan sampah di tingkat kewilayahan. “Sampah kita terancam lagi karena TPA Sarimukti mengurangi jatahnya 20 persen. Dua puluh persen itu sekitar 300 ton. Artinya, kita terancam akan ada tumpukan sampah setiap hari di Kota Bandung sebanyak 300 ton. Maka andalan kita adalah wilayah,” ujarnya dalam Siskamling Siaga Bencana ke-81 di Kelurahan Sadang Serang, Rabu 4 Februari 2026. Menurut Farhan, Bandung harus menjadi kota pertama yang melakukan pemilahan sampah langsung dari rumah dan diselesaikan di tingkat RW. Pemkot Bandung berupaya untuk tidak melakukan pola pemilahan sampah yang masih bertumpu di TPS. Dalam dialog di lapangan, terungkap tidak semua RW memiliki fasilitas pengolahan sampah. Untuk itu, sementara waktu pengolahan akan dibantu melalui penampungan di kelurahan, dukungan petugas, maggot plasma, serta sentralisasi di lokasi yang memiliki lahan memadai. Untuk konteks di Kelurahan Sadang Serang, Farhan juga menghitung, jika 21 RW masing-masing menghasilkan 25 kilogram sampah organik per hari, maka terdapat sekitar 525 kilogram yang harus dikelola setiap hari hanya dari satu kawasan. Hasil utama dari pengolahan sampah organik di tingkat RW adalah kompos. Farhan memastikan, kompos yang dihasilkan warga akan sepenuhnya diserap Pemkot Bandung. Lebih jauh, Farhan merancang integrasi antara program Kang Pisman, Buruan Sae dan Dapur Dahsat agar saling terhubung dalam satu siklus pemanfaatan. Melalui pendekatan berbasis wilayah dan peran aktif Gaslah sebagai petugas pemilah di tingkat RW, Pemkot Bandung menargetkan pola penanganan sampah yang lebih mandiri, cepat, dan berkelanjutan dari sumbernya langsung.