У нас вы можете посмотреть бесплатно TEMAN-TEMAN GURU SAYA BERKATA SAAT SAYA MENJADI MUALAF "DUH DOMBA YANG TERSESAT, KEMBALILAH KANDANG" или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Kalimat itu benar-benar menghantam batin saya lebih keras daripada yang mereka bayangkan. “Duh, domba yang tersesat, kembalilah ke kandang.” Ucapan itu dilontarkan dengan nada setengah iba, setengah mengejek, seolah keputusan saya menjadi mualaf adalah bukti bahwa saya telah kehilangan akal sehat. Yang mengatakan bukan orang asing, melainkan teman-teman guru saya sendiri orang-orang terpelajar yang selama ini saya hormati, yang tahu bagaimana perjalanan intelektual dan spiritual saya, yang menyaksikan kegelisahan batin saya bertahun-tahun lamanya. Namun saat saya akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidup, mereka memilih memberi label, bukan mendengar alasan. Saya terdiam, bukan karena tak punya jawaban, tetapi karena saya sadar: kebenaran yang lahir dari pencarian panjang tak selalu bisa dijelaskan kepada mereka yang tak pernah merasakan pergulatan itu. Mereka menyebut saya tersesat, padahal justru selama ini saya merasa tersesat dalam kebingungan, dalam pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan yang tak kunjung menemukan jawaban. Islam datang bukan sebagai paksaan, melainkan sebagai jawaban yang perlahan menenangkan hati saya. Ayat demi ayat, makna demi makna, semuanya terasa logis sekaligus menentramkan. Sejak hari itu, pandangan mereka berubah. Saya bukan lagi rekan diskusi, melainkan “objek doa agar kembali.” Saya dijauhi dengan cara yang halus namun menyakitkan. Tapi di tengah sunyinya dukungan manusia, saya justru merasakan kedekatan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya dengan Allah. Saya tidak merasa meninggalkan kebenaran saya merasa akhirnya menemukannya. Dan meski dicap sebagai “domba yang tersesat”, saya memilih bertahan, karena bagi saya, iman ini bukan soal kembali ke kandang siapa pun, melainkan tentang berjalan menuju cahaya yang Allah tunjukkan sendiri kepada hati saya.