У нас вы можете посмотреть бесплатно 2024-09-12 | TES🔴 Parahyangan Agung Jagatkartta, Tamansari Gunung Salak, Bogor. или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#parahyangan #agung jagatkartta #tamansari #gunung #salak #bogor tahun #2024 melaksanakan #pujawali ke-XIX pada 17 #september 2024 parahyangan terbesar di #indonesia setelah #pura #besakih #bali #pura #terbesar di #jawabarat empon oleh 3 #wilayah #propinsi seperti #propinsi #jawabarat #banten dan #jakarta #test #gopro #hero 9 non #stop 55 menit Pura Parahyangan Agung Jagatkarta (Sunda: ᮕᮥᮛ ᮕᮛᮠᮡᮍᮔ᮪ ᮃᮌᮥᮀ ᮏᮌᮒ᮪ᮊᮁᮒ) berarti "alam dewata suci sempurna"[1] atau sering disebut hanya Pura Jagatkarta adalah pura agama Hindu Nusantara yang terletak di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Setelah dibangun, Pura Jagatkarta adalah pura terbesar di Jawa Barat dan terbesar ke-2 di Indonesia setelah Pura Besakih di Bali, dianggap sebagai tempat persemayaman dan pemujaan terhadap Prabu Siliwangi dan para hyang (leluhur) dari Pakuan Pajajaran yang pernah berdiri di wilayah Parahyangan. Pura Jagatkarta terletak di kaki Gunung Salak, di Ciapus, Kecamatan Ciomas di Kabupaten Bogor. Pura Jagatkarta dibangun di lokasi unik di Gunung Salak karena konon Kerajaan Sunda Pajajaran pernah berdiri di lokasi tersebut. Pakuan Pajajaran adalah wilayah ibu kota Kerajaan Sunda Galuh, Kerajaan Hindu terakhir di Nusantara (bersama Majapahit) yang mengalami masa keemasannya di bawah pemerintahan Prabu Siliwangi, sebelum ditaklukkan oleh Muslim Jawa pada abad ke-16.[2] Tata letak Pura Jagatkarta juga berdasarkan legenda bahwa titik tersebut adalah tempat di mana Prabu Siliwangi mencapai moksa bersama para prajuritnya, sehingga sebelum dibangun, sebuah Candi dengan patung harimau (Sunda: maung) berwarna putih dan hitam (lambang Prabu Siliwangi) didirikan sebagai penghormatan terhadap Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Hindu terakhir di tanah Parahyangan. Sebagian peninggalan Pajajaran kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Akses jalan dari kaki Gunung Salak menuju Pura Jagatkarta telah diperlebar sejak pembangunannya dirintis pada tahun 1995, sehingga kendaraan bisa mencapai Pura dengan mudah. Namun karena banyaknya pengunjung yang datang untuk mengikuti upara ngenteg linggih atau peresmian Pura Jagatkarta, areal parkir terletak jauh dari areal pura.