У нас вы можете посмотреть бесплатно Cerita di balik asal usul nama Kota Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Sekayu adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, Indonesia. Secara administratif, Kecamatan Sekayu merupakan lokasi Kota Sekayu yang berstatus sebagai Ibu kota. Kecamatan Sekayu bercirikan wilayah perkotaan (urban area). Kecamatan Sekayu adalah pusat pemerintahan kabupaten, pusat pendidikan, pusat pelayanan kesehatan, dan pusat perdagangan barang dan jasa (selain Sungai Lilin dan Bayung Lencir). Selain bahasa Melayu dialek Sekayu, bahasa lain yang digunakan penduduk di wilayah ini adalah bahasa Melayu dialek Palembang atau bahasa Indonesia. Luas wilayah Kecamatan Sekayu mencapai 701,60 km2 (4.92 persen dari total luas Kabupaten Musi Banyuasin). Ada kisah dari nama sekayu ini. Dahulu kala sebelum pemerintahan Puyang Depati (Sahmad Bin Sahaji) diangkat menjadi Datuk dan pindah dari dusun Soak ke Pangkalan Balai (cikal bakal Kota Sekayu), bahwa duluhnya di dusun soak ada persawahan yang di kenal masyarakat dengan sebutan Pang Sako di hulu dan Pang Sambut di hilirnya. Areal persawahan ini di garap oleh masyarakat dusun soak dan pangkalan balai setiap tahunnya, dalam penggarapan sawah sering terjadi keributan antara warga dua dusun tersebut dan lagi-lagi Puyang Depati sebagai penengahnya. Dan pada masa itu Puyang Depati memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Sahaji dan Puyang Sahaji memiliki anak laki-laki bernama Sajidin dan Sajidin memiliki anak bernama Tahaji yang dikenal dengan sebutan Puyang Kilat kemarau, berfokus pada puyang kilat kemarau ini beliau memiliki tiga putri nan cantik jelita bernama : Tasaima, Tasaiyah dan Sak Ayu. Dari ketiga putri Tahaji yang tercantik adalah Sak Ayu. Putrinya nan cantik jelita inilah yang paling sering turun ke sawah dan saat panen banyak memperoleh hasil. Tapi saat beranjak dewasa Sak Ayu jarang di ajak ke sawah maka kenyataan yang terjadi adalah hasil panen menurun, hal tersebut terasa begitu janggal dan menjadi perhatian orang tua dan masyarakat sekitar. Ibu dari ketiga putri tersebut bernama Mahesa binti Madaru pernah bermimpi bahwa salah satu anaknya memiliki tuah padi dan mimpi itu di ceritakannya pada Puyang Depati. Kemudian Puyang Depati memohon petunjuk dari Sang Kuasa agar mendapat pencerahan. Tak lama dari itu diyakini Puyang Depati mendapatkan pencerahan dari Sang Kuasa bahwasanya Sak Ayu Putri dari Puyang Kilat Kemarau ternyata memang benar mempunyai tuah padi (Keberuntungan dalam hal berladang/bersawah). Sejak saat itu masyarakat percaya bahwa kalau ingin panen berhasil mereka harus mengajak Sak Ayu turun ke sawah untuk menurunkan bibit dan minta didoakan agar bibit yang di tanam terhindar dari penyakit dan berbuah banyak dan itu pun memang benar adanya. Akhirnya tersebarlah ke seantero dusun dan sampai sekarang masyarakat masih mempercayai tuah padi ini. Seluruh areal persawahan Pang Sako setiap tahun berhasil panen dengan melimpah ruah dan masyarakat banya berterima kasih pada Sak Ayu. Masyarakat merasakan manfaatnya maka areal persawahan Pang Sako di gelari masyarakat dengan istilah semangat padi Putri Sak Ayu, lama kelamaan areal ini terus berkembang dan mulai di dirikan perumahan di sekitar pinggiran sungai musi, mulai dari sekitar areal terusan simpit sampai ke arah hulunya. Singkat cerita pada tahun 1745 masehi masyarakat mulai membangun perkampungan dan pertanian, dan kedua dusun terdahulu di ganti namanya oleh Puyang Depati menjadi Sak Ayu atau Sekayu. Setelah Puyang Depati di angkat menjadi Mantri Marga Melayu, maka ibu kota Marga Mantri Melayu di beri nama “Sakayu”, lambat laun masyarakat mulai menyebut ibu kota Marga tersebut menjadi Sekayu.