У нас вы можете посмотреть бесплатно Bagaimana Filsafat Melahirkan Sains Modern? Peran Humanisme или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Sejarah modernitas dan perkembangan iptek lahir dari rahim panjang humanisme: sejak Yunani Kuno dengan paideia dan artes liberales—yang menyatukan olah pikir dan olah rasa melalui trivium dan quadrivium—hingga Renaisans yang menegaskan kembali martabat manusia sebagai pusat pengetahuan; musik pun dulu dipahami sebagai matematika kosmis ala Pythagoras, bukan sekadar hiburan. Tradisi ini berkembang menjadi studia humanitatis dan mencapai bentuk modernnya ketika Wilhelm Dilthey membedakan ilmu-ilmu alam dan humaniora, sebuah pemisahan yang ikut membentuk sains modern yang antropocentris—bahkan kelak menyumbang krisis ekologis. Dalam etos ilmiah modern, Francis Bacon mengajarkan kewaspadaan terhadap prasangka, sementara Isaac Newton menanamkan sikap terbuka radikal terhadap kemungkinan. Semua ini disintesiskan secara mendalam oleh Immanuel Kant, yang mendamaikan rasionalisme dan empirisme dengan menunjukkan bahwa kita hanya mengenal fenomena melalui “kacamata” ruang, waktu, dan kategori akal, sementara noumena tetap tak tersentuh; namun justru di wilayah moral, Kant menegaskan pentingnya kebebasan, jiwa, dan Tuhan sebagai postulat agar kebaikan masuk akal. Warisan Kant membentuk mentalitas modern yang otonom dan universal, sekaligus melahirkan paradoks zaman kini: postmodernisme mengkritik universalisme, tetapi tetap hidup di atas fondasi rasionalitas modern—fondasi yang diteruskan oleh Edmund Husserl dan Martin Heidegger—sehingga meski narasi besar runtuh dan dunia terasa cair, cara berpikir rasional-humanis tetap menjadi bahasa dasar yang memungkinkan manusia berkomunikasi, membangun ilmu, dan merawat peradaban. Seri Kuliah Filsafat Ilmu - Bagian 6 Pemateri Bapak Bambang I. Sugiharto 00:00:14 Peran Humanisme dalam iptek modern 00:01:30 Paidea 00:01:33 Artes Liberales: Trivium: Grammatika, rhetorika, logika 00:04:13 Quadrivium: Arithmetika, Astronomika, Geomatika, Musika 00:05:40 Studia Humanitatis Humaniora (Geisteswissenscahften) ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften) 00:10:31 F. Bacon 00:11:15 Isaac Newton & Sikap Ilmiah 00:15:53 Immanuel Kant: Sintesis antara Rasionalisme dan Empirisme Kant hadir mendamaikan dua kubu yang bertarung: Rasionalisme (yang percaya akal/logika adalah sumber kebenaran, seperti Leibniz & Wolff) dan Empirisme (yang percaya pengalaman indrawi adalah sumber pengetahuan, seperti Hume). Kant menggabungkan keduanya: "Akal tanpa pengalaman itu kosong, pengalaman tanpa akal itu buta." 00:19:07 Struktur Realitas Fenomena vs Noumena Pembedaan krusial dalam filsafat Kant: Fenomena: Realitas sejauh yang tampak dan bisa ditangkap oleh manusia. Noumena (Das Ding an sich): Benda pada dirinya sendiri (hakikat asli) yang tidak akan pernah bisa kita ketahui sepenuhnya karena terhalang oleh cara kerja otak/indera kita. 00:21:05 Perangkat Lunak Otak Kita (Unsur A Priori) Kant menjelaskan bahwa manusia tidak menerima realitas secara pasif, melainkan aktif membentuknya menggunakan "kacamata" bawaan (a priori) yang sudah terinstal di benak kita: Ruang & Waktu: Segala sesuatu pasti kita tangkap dalam kerangka ruang dan waktu. 12 Kategori: Termasuk kausalitas (sebab-akibat). Kita memahami dunia karena otak kita menata data indrawi ke dalam kategori-kategori ini. 00:30:00 Disiplin Akal Murni & Kritik Dogmatisme Penjelasan bahwa akal (rasio) perlu didisiplinkan agar tidak liar. Tanpa disiplin (kritik), akal jatuh menjadi Dogmatisme: seolah-olah bisa tahu segalanya (seperti Tuhan, Jiwa, Alam Semesta) tanpa batasan, padahal itu di luar jangkauan fenomena. 00:44:43 Jembatan ke Abad 20: Husserl & Heidegger Pembahasan melompat ke pengaruh Kant pada filsafat modern. Edmund Husserl (Fenomenologi) dan Martin Heidegger meneruskan ide bahwa "kesadaran manusia-lah yang membentuk realitas", bukan sekadar cermin pasif. 00:48:19 Relevansi Metafisika untuk Moral Meskipun metafisika (Tuhan, Jiwa) tidak bisa dibuktikan secara ilmiah/empiris, Kant menegaskan ia tetap penting sebagai Postulat Moral. Kita perlu berasumsi Tuhan dan Jiwa itu ada agar moralitas dan kebaikan memiliki dasar yang rasional. 01:00:00 Refleksi Kontemporer: Runtuhnya Narasi Besar Bagian akhir kuliah (sesi tanya jawab/diskusi) menyinggung situasi dunia saat ini dimana ideologi-ideologi besar (seperti sosialisme) mengalami krisis atau kegagalan, dan bagaimana revolusi teknologi (komputer/digital) mengubah lanskap kemanusiaan secara drastis, menciptakan tantangan baru bagi etika dan filsafat. Catatan kuliah: https://ytpustakamatahari.blogspot.co... Full Season: Kuliah "Filsafat Ilmu" bersama Pa Bambang Sugiharto: https://ytpustakamatahari.blogspot.co...