У нас вы можете посмотреть бесплатно Menantuku Menghinaku “B4bi Tua Gendut” Di Pesta Pernikahan—Tapi Ayahnya Tahu Bahwa Akulah Bosnya... или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Di pernikahan putraku yang semua biayanya aku tanggung, calon menantuku memperkenalkan aku kepada keluarganya yang kaya raya. "Ini dia babi tua gendut yang perlu kita urus dan nanti tinggal bersama kita". Mereka semua tertawa. tapi ayahnya justru mengenaliku dan wajahnya langsung pucat. "Tunggu dulu! Bukankah kamu bos baruku?!" Semua mendadak terdiam. mereka tak tahu, bahwa aku sebenarnya adalah... Namaku Windah Kartika, usiaku 57 tahun, dan ya, badanku gendut. Terkadang, hidup memang terasa tak adil bagi kita, namun kadang kita tak bisa menepisnya. Tapi rasanya, di saat-saat tertentu, kita tak boleh hanya diam saja tanpa melawan. Dunia harus tahu siapa kita sebenarnya. Hari itu, pagi-pagi sekali aku sudah ngos-ngosan naik tiga anak tangga terakhir di rumah kontrakan ini. Dada berat, lutut protes, kaos longgar warna biru muda menempel di punggungku yang basah keringat. Perut dan pinggangku menonjol jelas. Aku tahu aku gemuk. Orang kampung sini bilang, "Gendut banget Bu Windah. Hati-hati kolesterol." Mereka pikir aku cuma janda tua yang hidup dari sisa uang pensiun entah apa. "Beli sayur, Bu?" teriak Lastri dari depan gang. Aku melongok dari jendela. Rambutku yang dicat coklat kemerahan berantakan. "Nanti," jawabku. "Aku mau rebus yang di kulkas dulu. Lagi hemat." Lastri cekikikan, mendekat. "Ibu itu ya, sudah tua masih aja susah. Anak Ibu kerja kantoran, 'kan? Masa enggak bisa kirim uang lebih?" Aku ikut tertawa kecil, walau hatiku menegang. "Namanya juga anak. Masih banyak kebutuhan. Ibu enggak apa-apa, terbiasa susah." Padahal, kalau aku mau, tinggal telepon satu orang. Uang miliaran bisa cair hari ini juga. Tapi itu rahasiaku. Mereka lebih nyaman melihatku sebagai ibu gemuk miskin daripada kenyataan bahwa aku pemilik PT Kartika Global Investama atau biasa disingkat KGI holding yang pelan-pelan menelan banyak perusahaan sedang sekarat di negeri ini. Jam lewat sedikit. Suara mesin mobil terdengar berhenti agak jauh di ujung gang. Bukan mobil tetangga. Mesin halus. Aku sudah hafal bunyinya. Alphard hitam milik kantor. Aku cepat-cepat ganti kaos dengan blus longgar warna krem, celana bahan gelap, tas selempang kubetulkan. Aku ambil kantong plastik isi sayur dari kulkas. Pura-pura baru belanja. "Bu, itu ada mobil gede banget di ujung gang. Pejabat kali, ya?" bisik Lastri sambil melongok. Aku mengangkat bahu. "Mungkin tamu Pak RT." Begitu Lastri masuk rumahnya, aku melangkah pelan ke ujung gang seperti ibu-ibu biasa yang mau numpang kendaraan anaknya. Sopir langsung turun membuka pintu. "Selamat pagi, Bu Windah," katanya sopan. Aku mengangguk kecil. "Pagi, Mas. Jangan manggil nama di depan gangnya, nanti pada heran." Ia paham. "Siap, Bu." Begitu pintu mobil tertutup dan kaca gelap memisahkan aku dari gang sempit itu, napasku terasa sedikit lega. Kontrasnya selalu lucu buatku. Barusan aku ditertawakan karena belanja sayur murah. Sekarang aku meluncur ke gedung tinggi milik perusahaanku sendiri di kantor pusat KGI. Semua orang berdiri begitu aku turun di basement khusus manajemen. Bukan basement yang bau. Ini lebih mirip lobi hotel kecil. Tubuhku memang gemuk dan jalanku lambat, tapi setiap langkahku di sini diikuti mata penuh hormat. "Selamat pagi, Bu Komisaris," sapa resepsionis. Aku tersenyum. "Pagi." Di ruang rapat lantai 20, layar besar sudah menampilkan judul rapat final akuisisi PT Gunawan Prima Foods, biasa disingkat GPF. Di sebelahku duduk Deni Wirawan, Direktur Keuangan, dan Reta Agustina, komisaris. Lina Safitri berdiri dekat proyektor. Tablet di tangan, rambutnya rapi. "Bu, dokumen final sudah siap. Tinggal Ibu tanda tangan," kata Lina pelan. Aku mengamati logo merah kuning PT Gunawan Prima Foods di layar. Nama pemilik lama, Tanto Gunawan. Aku belum terlalu memikirkan siapa orang ini. Di hidupku, pemilik perusahaan seperti dia datang dan pergi. Yang penting perusahaannya cocok dengan strategi investasi KGI. "Silakan Deni jelaskan singkat," kataku. Deni memaparkan angka, utang, dan potensi. Otakku menghitung cepat. Seperti biasa, di sela paparan ponsel di tasku bergetar. Nama yang muncul di layar: Edward Lesmana. Edward, putraku. Aku mengangkat tangan memberi isyarat jeda sebentar. 🙏 Kami memohon maaf apabila terdapat kemiripan nama, tempat, atau peristiwa dengan kejadian lain. 📌 Catatan penting: Gambar yang ditampilkan hanya bersifat ilustrasi. ⚠️ Disclaimer: Seluruh cerita dalam video ini adalah fiktif. Setiap kesamaan nama, tokoh, tempat, atau peristiwa adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Konten ini tidak bermaksud menyinggung atau merugikan pihak mana pun. 🔔 Jangan lupa untuk subscribe, tekan like, dan aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan cerita-cerita terbaru. #kisahnyata #kisahrumahtangga #dramarumahtangga #ceritarumahtangga #ceritakeluarga #kisahkeluarga Cerita Hati Lansia