У нас вы можете посмотреть бесплатно Sudharmono Versus Benny Moerdani или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Sudharmono Versus Benny Moerdani Pada 24 Februari 1988, terjadi kejutan. Terjadi pergantian Panglima ABRI dari Jenderal Leonardus Benyamin Moerdani atau akrab dipanggil LB Moerdani. Jenderal intel itu dicopot dari jabatannya digantikan oleh Letjen Try Sutrisno, yunior sekaligus kawan akrabnya. Pergantian Panglima ABRI itu mengagetkan publik sebab dilakukan seminggu sebelum Sidang Umum MPR digelar. Pergantian ini pun menjadi pertanyaan publik. Ada apa gerangan dibalik pergantian Panglima ABRI itu? Ada yang ganjil karena diluar kebiasaan. Biasanya siapa yang menduduki jabatan Panglima ABRI diumumkan bersamaan dengan pengumuman susunan kabinet karena jabatan ini adalah setara menteri. Begitulah yang dicatat A Pambudi dalam bukunya," Sintong dan Prabowo: Dari Kudeta L. B. Moerdani Sampai Kudeta Prabowo." Menurut Pambudi diberhentikannya Jenderal Benny sebagai Pangab hanya berarti satu hal, Presiden Soeharto mencoba membatasi ruang gerak Benny. Sementara menurut Kivlan Zen dalam bukunya," Konflik dan Integrasi TNI AD," dimajukannya pergantian Pangab untuk mencegah Benny Moerdani memaksa Ketua Fraksi ABRI di MPR, Letjen Bambang Triantoro, untuk mengajukan namanya sendiri sebagai calon Wakil Presiden. Cara ini dianggap mendahului kehendak Soeharto, dapat membuat malu, dan.terkesan tidak demokratis bila Soeharto menolaknya dalam Sidang MPR. Sidang Umum MPR 1988 memang agak menegangkan dibandingkan sebelumnya. Menurut Pambudi ada beberapa alasan. Pertama, Presiden Soeharto belum menunjuk sosok yang dipilihnya untuk menjadi Wakil Presiden. Ini menimbulkan banyak spekulasi di kalangan elit politik maupun masyarakat luas. Kekuatan-kekuatan politik yang ada saat itu kian berani mengelus-elus jagonya masing-masing. Situasi pun kian meruncing. Kedua, dari PPP atau Partai Persatuan Pembangunan muncul kandidat Cawapres yakni HJ. Naro. Motivasinya hanya untuk "meramaikan" saja, dan kalau bisa, memaksa agar sidang melakukan voting. Ketiga ada indikasi bahwa ABRI dan Golkar menghendaki nama yang berbeda menjadi Cawapres. Sudharmono saat itu yang menjadi Ketua Golkar. Nama Pangab Jenderal Moerdani sering disebut-sebut sebagai kandidat ideal di pihak ABRI. Sedangkan nama Sudharmono merupakan favorit Golkar. Baik Jenderal Moerdani maupun Sudharmono sama-sama kuat posisinya untuk menjadi Wapres. Sikap Presiden Soeharto-lah yang akan menentukan mana Cawapres yang akan terpilih. Presiden Soeharto sendiri saat itu dalam posisi sudah tidak menyukai Moerdani, jenderal intel yang pernah begitu dipercayainya. Jadi, untuk menutup kemungkinannya maju sebagai Cawapres dari jalur Fraksi ABRI, Soeharto memutuskan untuk memajukan waktu pergantian Pangab Menurut Pambudi makna di balik pergantian Pangab yang dipercepat itu diterima oleh Benny Moerdani. Terbukti, dua jam setelah prosesi pergantian Pangab, terjadi dialog antara Benny Moerdani, Letjen Soegiarto Kassospol Hankam dan Mayjen Harsudiono Hartas, Assospol Hankam. Kedua perwira tinggi itu mengajukan pertanyaan kepada Benny, "Pak, siapakah yang nanti akan kita ajukan sebagai calon Wakil Presiden?" "Lho, kok tanyanya sama ABRI," jawab Benny. "Memang, semuanya tanya sama kita. Semua bertanya, siapa yang bakal dicalonkan ABRI untuk menjadi wakil presiden," begitu desak Soegiarto dan Harsudiono Hartas hampir serentak. Benny kemudian menanyakan, bagaimana dengan pendapat floor?" Dijawab, nama Benny sering disebut-sebut. Tetapi dengan suara mantap, sambil menunjuk Try Sutrisno yang duduk di sebelahnya, Benny langsung menegaskan. "Bagus kalau demikian. Kalau saya masih jadi ketua partai ABRI. Tetapi sejak dua jam yang lalu, ketua partai sudah bukan di tangan saya lagi, melainkan Try." "Jadi?"tanya Letjen Soegiarto. "Jadi, ya yang ini saja saya usulkan, glundhungkan saja Try sebagai calon Wakil Presiden," kata Benny. Jenderal Try Soetrisno yang duduk di sebelah Benny. diam tidak bereaksi. Tentu saja usulan itu tidak mungkin dilaksanakan. Try baru beberapa jam menjabat Panglima ABRI secara resmi. Kata-kata Benny Moerdani hanya mengindikasikan bahwa dengan dicopotnya dia sebagai Pangab, harapan ABRI untuk mendudukkan kadernya di kursi Wapres telah sirna. Lebih dari itu, kata-kata itu berarti Benny telah bisa menerima isyarat yang diberikan Presiden Soeharto, agar dirinya.jangan maju sebagai Cawapres. Bahwa dia tidak boleh macam-macam, apalagi mengganggu proses pemilihan Wapres. Kata partai yang diucapkan Benny mungkin untuk memberi penekanan sinisme atau dramatisasi LB Moerdani terhadap jabatannya yang mendadak dicopot. Mungkin juga untuk menyindir Sudharmono yang saat itu Ketua Golkar. Karena secara formal ABRI bukanlah partai.