У нас вы можете посмотреть бесплатно 🔴Sikap Jokowi & Gibran Disorot seusai Rismon Minta Maaf di Kasus Ijazah, Ini Kata Eks Peneliti LIPI или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-VIDEO.COM - Sikap Mantan Presiden RI, Joko Widodo alias Jokowi dan anaknya Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka disorot. Sikap Jokowi disebut sebagai sosok yang tak mau kalah. Budayawan sekaligus mantan peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Mohamad Sobary alias M Sobary menyebut jika kini Jokowi sudah berubah. Hal ini terkait soal pakar digital forensik Rismon Hasiholan Sianipar yang mengajukan Restorative Justice (RJ atau Keadilan Restoratif) dalam kasus tudingan ijazah palsu. Sebagai informasi, Rismon dikabarkan mengajukan permohonan restorative justice kepada penyidik Polda Metro Jaya pada awal Maret 2026. Lalu, pada Kamis (12/3/2026) sore, ia menyambangi kediaman Jokowi yang terletak di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, Jawa Tengah. Keesokan harinya atau Jumat (13/3/2026), Rismon menemui Gibran di Istana Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 6, Jakarta Pusat. Dalam dua kesempatan itu, Rismon didampingi kuasa hukumnya, Jahmada Girsang. Adapun Rismon Sianipar sendiri sudah mengakui bahwa ijazah Jokowi asli dan meminta maaf kepada publik maupun Jokowi beserta keluarganya. Jokowi Tidak Mau Kalah M Sobary menyebut, sikap Jokowi dan Gibran saat menemui Rismon Sianipar secara langsung, menunjukkan bahwa Mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu tidak mau kalah. Sebab, menurut pria yang akrab disapa Kang Sobary ini, Jokowi punya banyak uang, jadi akan merasa gengsi jika kalah atau menuruti kemauan pihak-pihak yang ingin dirinya menunjukkan keabsahan ijazahnya. "Jokowi tidak mau kalah. Tidak mau kalah. Meskipun fakta-fakta sebenarnya, nalar kita, mengatakan tidak mungkin ijazah ini asli," kata M Sobary dalam podcast atau siniar Madilog yang diunggah di kanal YouTube Forum Keadilan, Selasa (17/3/2026). "Musuhnya Jokowi itu berlapis-lapis, ada banyak, Bonatua, Bonjowi (Bongkar Ijazah Jokowi), Muhammad Taufiq. [Jadi], Jokowi tidak mau kalah. 'Duit punya, edyan po [gila apa, red] kalah?'" M Sobary menilai, karakter Jokowi tidak seperti karakter yang pernah disebut sebagai latar belakangnya, yakni dari sosok sederhana atau miskin yang tinggal di tepi sungai. Sebagai informasi, hampir 12 tahun lalu, saat terpilih sebagai Presiden RI 2014–2019, Jokowi mengungkap dirinya pernah tinggal di bantaran kali. "Saya lahir di bantaran sungai. Sudah pernah merasakan bagaimana tidak enaknya hidup susah," kata Jokowi di pasar barang bekas Notoharjo, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (26/7/2014). M Sobary menyebut, Jokowi bukanlah sosok yang sadar diri dengan latar belakangnya, melainkan kini sudah berubah menjadi monster karena pernah berkuasa dan memiliki uang banyak. Sehingga, menurut M Sobary, Jokowi merasa sebagai orang besar, sehingga tidak mau kalah dalam tudingan ijazah palsu yang selama ini gencar dilancarkan Rismon Sianipar (sebelum mengajukan RJ) bersama pakar telematika Roy Suryo dan pegiat media sosial Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa). Bahkan, M Sobary menyebut, Jokowi memiliki karakter megalomania. Megalomania sendiri merupakan waham kebesaran, di mana seseorang memiliki keyakinan berlebihan bahwa dirinya sangat hebat dan berkuasa, jauh melampaui kenyataan. Namun, M Sobary memandang bahwa karakter megalomania itu dibungkus dalam citra Jokowi sebagai orang kecil. "Kalau Jokowi adalah Jokowi wong ndeso [orang kampung], mari kita tarik Jokowi sebagai orang pinggir kali yang otomatis kondisinya miskin, sekolahnya keteteran, kebiasaan reading habit di keluarganya parah, segalanya parah, niscaya Jokowi sebenarnya menyerah," ucap M Sobary. "Tapi, dia kan tidak seperti itu." "Dia sudah berubah menjadi suatu monster yang sangat menakutkan. Punya duit, pernah berkuasa, pernah memiliki ambisi sangat besar, pernah merasa orang besar. Megalomania, tapi ditampilkan dalam wujud orang kecil, 'Saya dihina sehina-hinanya.'" Kemudian, M Sobary menyebut, Jokowi lupa diri lantaran terus-menerus ingin menuruti hasrat berkuasa. Ia menyinggung soal wacana Jokowi tiga periode yang merebak jelang akhir periode keduanya, tetapi ketika wacana tiga periode itu hilang, terbitlah Gibran yang melanjutkan tampuk kekuasaan dengan maju ke Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024 dan akhirnya terpilih sebagai Wakil Presiden RI. "Tiga term [masa] kepemimpinan tidak tercapai, cukup dua term, itu sudah hebat," papar M Sobary. "Maka term ketika anaknya menjadi wapres dan menempuh segala cara. Ini bagian dari sesuatu yang megalomania. Dituruti megalomania ini, hasrat berkuasa yang menggelegak itu dituruti semua dan itu membuat dia lupa diri." Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Sikap Jokowi dan Gibran Disorot usai Rismon Minta Maaf Soal Ijazah Palsu, https://jatim.tribunnews.com/news/537.... Editor: Torik Aqua Editor Video: Anggraini Puspasari