У нас вы можете посмотреть бесплатно MENELISIK SEJARAH TEMANGGUNG BARENG KOMUNITAS или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
“Surat Cinta” dari Sejarah Temanggung: Ketika Warga Menegur Pemerintah Soal Sejarah yang Keliru Di tengah hawa dingin khas Temanggung, perbincangan hangat mengalir di studio podcast Kepoin Yuk. Episode kali ini terasa berbeda. Bukan soal UMKM, wisata, atau kopi lokal—melainkan tentang sejarah. Lebih tepatnya, sejarah Temanggung yang ternyata... masih menyimpan tanda tanya. Ucok, pengelola akun @sejarahtmg, yang menjadi bintang tamu dalam edisi spesial tersebut. Dengan gaya santai namun bernas, ia menuturkan keresahan yang melatari unggahan viralnya di media social sebuah “surat cinta” untuk Pemerintah Kabupaten Temanggung. “Sebetulnya bukan mencari geger, tapi bentuk cinta saya ke Temanggung,” ujarnya kalem di hadapan host podcast, Firman Adi. Geger “Demanggong” dan Kesalahan Sejarah Kisah bermula dari sebuah video pendek yang diunggah akun resmi HUT191 yang mengutip sumber dari situs web resmi Pemkab Temanggung. Namun, belum genap sehari tayang, unggahan tersebut dihapus. Alasannya: protes dari sejumlah warga dan pemerhati sejarah yang menilai risetnya dangkal dan mengandung kekeliruan. “Salah satu yang paling fatal itu istilah Demang gong,” ujar Ucok. Dalam naskah sejarah yang diunggah di laman resmi pemerintah, disebutkan bahwa Demang gong adalah pembantu Raja Rakai Pikatan dari wangsa Syailendra. “Padahal, pada masa Mataram Kuno istilah demang belum ada. Kepala wilayah kala itu disebut rakai. Jadi tidak ada Demang Gong di era Rakai Pikatan,” tegasnya. Kesalahan itu bukan perkara sepele. “Demang” baru dikenal pada masa yang jauh lebih muda dari periode Mataram Kuno. Artinya, narasi yang mencampur kedua masa tersebut menimbulkan kekeliruan kronologis yang serius. Tak hanya itu, Ucok juga menyoroti klaim situs pemerintah bahwa sejarah Temanggung baru tercatat dalam prasasti Wanua Tengah III—padahal masih ada puluhan prasasti yang lebih tua, di antaranya Prasasti Disunuh (abad ke-8 Masehi) dan Wanua Tengah I & II. Respon Cepat Pemerintah Kritik tersebut ternyata berbuntut panjang. Unggahan surat cinta itu viral, memantik diskusi publik lintas daerah. Dari Magelang hingga Bojonegoro, banyak warganet mengaku mengalami hal serupa—sejarah lokal di situs resmi pemerintah yang ditulis serampangan. Namun, yang mengejutkan justru respon dari Pemkab Temanggung sendiri. Akun resmi Bupati Temanggung bahkan turun langsung menanggapi. “Cepat sekali,” kata Ucok. “Dalam hitungan jam, saya dihubungi oleh teman-teman dari Dinas Kominfo dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Mereka membuka ruang dialog.” Bagi Ucok, hal itu patut diapresiasi. “Saya senang karena pemerintah responsif. Banyak daerah lain justru iri—katanya, pemkab mereka tak secepat itu menanggapi kritik.” Sejarah Lokal dan Krisis Identitas Mengapa perkara sejarah lokal begitu sensitif? Ucok menjawab lugas: karena di situlah akar identitas. “Kalau kita saja tidak tahu asal-usul daerah sendiri, bagaimana kita bisa menyebut diri sebagai orang Temanggung?” ujarnya. Ia khawatir kesalahan informasi di situs resmi bisa berimbas luas. Apalagi, banyak sistem kecerdasan buatan (AI) seperti Gemini atau Google yang menarik data dari sumber pemerintah. “Begitu data salah, maka salahnya bisa menyebar ke mana-mana,” katanya. Bagi Ucok, koreksi bukan berarti melawan pemerintah. Ia justru ingin pemerintah membuka pintu kolaborasi dengan para peneliti lokal. “Di Temanggung banyak pendekar sejarah,” sebutnya, merujuk pada tokoh-tokoh seperti Gunawan Sambodo dan Hendro Martono yang telah meneliti situs-situs purbakala di daerah itu. Sinergi, Bukan Konfrontasi Dari berbagai pertemuan dan diskusi, baik pemerintah maupun para pegiat sejarah sepakat: sejarah Temanggung perlu ditulis ulang dengan pendekatan yang lebih ilmiah. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berencana menggandeng para ahli, termasuk dari komunitas Sejarah Temanggung. “Saya harap ke depan sinergitas antar-dinas diperkuat,” ujar Ucok di penghujung podcast. “Bukan cuma untuk isu sejarah, tapi untuk semua urusan publik.” Bagi masyarakat, ia berpesan agar terus mencari dan menggali. “Temanggung itu punya banyak cerita yang menunggu untuk dibuka,” katanya menutup.