У нас вы можете посмотреть бесплатно DILIGERE SICUT CHRISTUS DILEXIT, Lagu motto Uskup Surabaya. Tahbisa uskup Surabaya или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Lagu motto Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, Pr. Dikumandangkan dengan sangat indah pada misa tahbisan. Permenungan Mgr Agustinus : DILIGERE SICUT CHRISTUS DILEXIT “Mencintai seperti Kristus telah mencintai”, itulah motto episkopal yang aku pilih. Kalimat ini adalah ringkasan dari tiga ayat : sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13: 15) Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yoh 13:34) Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. (Yoh 15:12) Pada mulanya, inspirasiku pertama dalam pemilihan motto bersumber pada motto saya dikala tahbisan imamat, “Dilectio qua dilexisti me” (Kasih, dengannya Engkau (Bapa) telah mengasihi Aku). Versi pendek dari Injil Yoh 17:26b :”Supaya kasih yang Engkau berikan kepadaku ada di dalam mereka, dengan demikian Aku di dalam mereka” Mengapa perintah ‘KASIH’ sungguh memikat diriku ? Pada 1993, waktu pembuatan skripsi Sarjana, aku menemukan IMAN, HARAPAN dan KASIH sebagai grand design ontologis menjadi manusia kristiani yang otentik, melalui penemuan filosofis Gabriel Marcel (filsuf Perancis): melalui IMAN, manusia melalui pengalaman sehari-hari bersama sesamanya, dimampukan menggapai komitmen total pada kebenaran yang transenden. Komitmen yang melampaui pemampuan intelektual. Melalui HARAPAN, manusia memiliki daya keberanian yang tetap terbuka pada masa depan dan kepada misteri hidup. Harapan adalah iman akan adanya makna di horizon masa depan. Melalui CINTA, manusia dapat hadir secara otentik bagi sesama-nya. Sesama bukan objek ataupun alat. Mencinta (ada dalam cinta) merupakan kesadaran dan kehadiran diri yang penuh - berdiri di atas misteri - hadir, terbuka dan memberikan diri melampaui ego. Sesama merupakan si engkau yang mengada dengan latar Sang Engkau. Setiap manusia yang mencintai (hidup dalam kasih) dengan demikian mentransenden menjadi ilahi. Menjadi tinggal dalam Allah. Tinggallah di dalam KASIH-Ku. ”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” (Yohanes 15:9-10) Pada mulanya, inspirasiku pertama dalam pemilihan motto bersumber pada motto saya dikala tahbisan imamat, “Dilectio qua dilexisti me” (Kasih, dengannya Engkau (Bapa) telah mengasihi Aku). Versi pendek dari Injil Yoh 17:26b :”Supaya kasih yang Engkau berikan kepadaku ada di dalam mereka, dengan demikian Aku di dalam mereka” Mengapa perintah ‘KASIH’ sungguh memikat diriku ? Pada 1993, waktu pembuatan skripsi Sarjana, aku menemukan IMAN, HARAPAN dan KASIH sebagai grand design ontologis menjadi manusia kristiani yang otentik, melalui penemuan filosofis Gabriel Marcel (filsuf Perancis): melalui IMAN, manusia melalui pengalaman sehari-hari bersama sesamanya, dimampukan menggapai komitmen total pada kebenaran yang transenden. Komitmen yang melampaui pemampuan intelektual. Melalui HARAPAN, manusia memiliki daya keberanian yang tetap terbuka pada masa depan dan kepada misteri hidup. Harapan adalah iman akan adanya makna di horizon masa depan. Melalui CINTA, manusia dapat hadir secara otentik bagi sesama-nya. Sesama bukan objek ataupun alat. Mencinta (ada dalam cinta) merupakan kesadaran dan kehadiran diri yang penuh - berdiri di atas misteri - hadir, terbuka dan memberikan diri melampaui ego. Sesama merupakan si engkau yang mengada dengan latar Sang Engkau. Setiap manusia yang mencintai (hidup dalam kasih) dengan demikian mentransenden menjadi ilahi. Menjadi tinggal dalam Allah. Tinggallah di dalam KASIH-Ku. * ”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” (Yohanes 15:9-10)