У нас вы можете посмотреть бесплатно Melintasi Waktu di Jantung Bandung: Dari Jejak Thomas Karsten hingga Detik Arloji Cihapit или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Melintasi Waktu di Jantung Bandung: Dari Jejak Karsten hingga Detik Arloji Cihapit Suatu Minggu sore di Bandung. Cuaca sedikit mendung dan udara sejuk menyapa, menciptakan atmosfir yang sempurna untuk sebuah penjelajahan kaki. Perjalanan dimulai dari Jalan Serayu, tepat di depan Batagor Baso Cuanki yang legendaris. Ini adalah pengalaman pertama menelusuri rute ini secara mendalam, sebuah upaya untuk mengenal sisi lain kota yang sering terlewatkan dalam kecepatan kendaraan motor. Simetri dan Estetika "Indische" di Jalan Brantas Melangkah masuk ke Jalan Brantas, suasana seketika berubah. Kebisingan Serayu berganti dengan ketenangan lingkungan perumahan yang tampaknya masih setia pada cetak biru zaman kolonial. Jalan ini adalah contoh nyata dari konsep Garden City yang diusung oleh perancang kota ternama, Thomas Karsten. Di kiri-kanan jalan, jalur hijau dengan pohon-pohon peneduh besar memberikan naungan alami, sebuah elemen wajib dalam perencanaan kota tropis masa itu. Pandangan tertuju pada deretan rumah gaya Indische. Ada rumah tunggal yang berdiri megah dengan desain simetris yang berhadapan persis dengan kembarannya di seberang jalan, sebuah harmoni visual yang direncanakan matang. Kami juga menemukan rumah-rumah tipe kopel (semi-detached) berukuran lebih kecil yang tampak bersahaja. Menariknya, saya melihat sebuah kontras: ada rumah yang terawat rapi, namun ada pula yang mulai dimakan usia. Namun, di mata seorang penikmat kota, rumah yang tidak terawat pun memiliki estetika dekomposisi yang indah; ia menyimpan kejujuran material dan jejak sejarah mikro Bandung yang tak bisa digantikan oleh bangunan baru. Cihapit: Living Heritage dan Detik yang Abadi Perjalanan berlanjut menuju Jalan Cihapit. Di sini, narasi sejarah berubah dari arsitektur menjadi Living Heritage (warisan yang hidup). Selain rumah makan ayam asin yang menggoda selera, perhatian tertambat pada deretan pedagang kaki lima yang menjual jam tangan bekas. Ini adalah ekosistem yang luar biasa. Bayangkan, jam tangan antik buatan 60 tahun lalu masih berdetak di sini. Keberadaan para pedagang ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan ekosistem kolektor dan teknisi yang menjaga tradisi presisi tetap hidup. Saat berkunjung 20 tahun lalu, lapak-lapak ini sudah ada. Konsistensi selama dua dekade ini membuktikan bahwa Cihapit memiliki daya lenting sosial yang kuat di tengah gempuran modernitas. Kontestasi Ruang di Taman Cihapit Sampailah di Taman Cihapit, sebuah ruang terbuka hijau berbentuk segitiga yang membelah persimpangan Jalan Ciliwung dan Cibeunying. Tiga pohon besar yang rindang di tengah taman seolah menjadi oase di tengah persimpangan. Namun, ada realita urban yang menarik di sini. Taman ini bertetangga dengan Taman Cibeunying, yang sayangnya kini hampir tak terlihat karena tertutup deretan pedagang tape mobil yang sudah mangkal selama puluhan tahun. Fenomena ini menunjukkan bagaimana aktivitas ekonomi informal secara organik mengubah fungsi ruang publik. Taman yang seharusnya menjadi ruang kontemplasi, bertransformasi menjadi koridor komersial permanen, sebuah dinamika perkotaan yang lazim terjadi di kota-kota besar Indonesia di mana batas antara ruang publik dan ruang privat seringkali menjadi cair. Adaptasi di Sepanjang Jalan Ciliwung Memasuki Jalan Ciliwung, karakter lingkungan kembali berubah menjadi lebih dinamis dan padat kendaraan. Di sini, kita bisa melihat fenomena Adaptive Reuse (alih fungsi bangunan). Rumah-rumah tua peninggalan kolonial yang dulunya sunyi, kini bersalin rupa menjadi toko daging, rumah makan ayam ungkep yang ramai, hingga butik. Meskipun wajah depannya (façade) berubah menjadi komersial, struktur utamanya masih menyisakan keanggunan masa lalu. Penelusuran sore itu berakhir di persimpangan Jalan Ciliwung, Cilaki, Cisangkui, dan Bengawan, tepat di depan Pet Park. Berdiri di titik ini, menyadari bahwa berjalan kaki di Bandung bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah dialog dengan waktu. Bandung bukan hanya kota yang ramai dihuni Belanda di masa lalu, tapi kota yang terus beradaptasi tanpa pernah benar-benar meninggalkan jejak kakinya di sejarah. Rute di Google Map https://www.google.com/maps/d/viewer?... Subscribe bila menyukai video di channel ini. / walkingstories Video di channel ini direkam dengan salah satu dari gadget di bawah ini: Iphone 11 4K 25 fps. DJI Pocket 2 atau 3 4K 25 fps. Gopro 10 Black 4K 25 fps. Instagram / walking.stories.bdg Twitter / walking_stories #walkingtour #virtualtour #explorebandung #reallife #reallifeindonesia #gangdibandung #kehidupandibandung #asmr