У нас вы можете посмотреть бесплатно Air Setinggi Dada, Warga Tiga Desa di Kabupaten Pekalongan Demo Tuntut Penanganan Serius или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Hampir 500 warga dari tiga desa di Kabupaten, di antaranya Desa Mulyorejo, Desa Tegaldowo, dan Desa Karnagjompo Pekalongan menggelar aksi unjuk rasa akibat banjir yang tak kunjung surut selama hampir tiga minggu. Dengan kondisi air yang masih menggenangi rumah, hingga setinggi dada orang dewasa di sejumlah titik, warga menuntut penanganan banjir dilakukan lebih serius dan cepat. Aksi yang diikuti ratusan warga, melakukan longmarch dengan berjalan kaki sambil membentangkan baliho dari Jembatan Sabar Menanti, yang menjadi perbatasan Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, menuju jalur Pantura. Sepanjang perjalanan, warga menyuarakan keluhan terkait genangan air yang masih bertahan di permukiman serta belum terlihatnya solusi konkret untuk mempercepat surutnya banjir. Mereka menilai, penanganan yang dilakukan sejauh ini belum memberikan dampak signifikan bagi kehidupan warga terdampak. Salah seorang warga Desa Karangjompo Wati yang ikut dalam aksi menyampaikan, bahwa banjir sudah berlangsung hampir tiga minggu tanpa perubahan berarti. Menurutnya, ketinggian air di dalam rumah rata-rata mencapai paha orang dewasa, sedangkan di jalan lingkungan hingga jalan utama bisa mencapai sekitar satu meter atau setinggi perut hingga dada. "Sudah hampir tiga minggu seperti ini. Penanganannya terasa lambat, belum ada solusi jelas. Aktivitas kami semua terganggu," ujarnya kepada Tribunjateng.com, Senin (9/2/2026). Dampak banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi warga. Mayoritas warga bekerja sebagai buruh, namun tidak dapat berangkat kerja karena akses jalan terendam dan kondisi rumah belum memungkinkan untuk ditinggalkan. "Banyak yang kerja di pabrik, jadi tidak bisa masuk. Mau keluar rumah saja sulit karena air masih tinggi," tambahnya. Wati menegaskan, aksi tersebut dilakukan secara sukarela sebagai bentuk keprihatinan bersama atas kondisi banjir yang berkepanjangan. Mereka berharap, pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata dan terukur agar banjir cepat surut serta kehidupan masyarakat bisa kembali normal. Uploader : Ica