У нас вы можете посмотреть бесплатно Labuhan Ageng Dal 1951 или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Khusus tahun Dal yang terjadi setiap 8 tahun sekali seperti 2018 ini, Labuhan dilaksanakan di empat tempat, antara lain: Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu dan Hutan Dlepih. Lokasi Labuhan merupakan tempat-tempat yang memiliki filosofi atau keterkaitan historis dengan Kerajaan Mataram. Labuhan Parangkusuma dilakukan karena pernah berfungsi sebagai tempat bertapa pendiri Dinasti Mataram, Panembahan Senopati. Begitu juga hutan Dlepih Kayangan. Letusan Gunung Merapi dahulu berhasil menghalangi serangan Pajang ke Mataram, dan Gunung Lawu menjadi tempat berlindung Prabu Brawijaya V yang dianggap sebagai leluhur dari pendiri kerajaan Mataram dan Keraton Yogyakarta. Selain sebagai bentuk permohonan akan kesejahteraan Ngarsa Dalem dan seluruh masyarakat Yogyakarta, Labuhan juga merupakan salah satu perwujudan dari filosofi Hamemayu Hayuning Bawono. --- For the once-in-eight-year Dal years, like this year, Labuhan takes place at four location such as: Parangkusuma Beach, Merapi Mountain, Lawu Mountain and Dlepih Forest. The locations for Labuhan are the places which have the philosophical and historical associations with the Mataram Kingdom. Labuhan Parangkusuma is held because the place was once the location for the founder of Mataram Dynasty, Panembahan Senopati, to meditate. The Dlepih Kayangan is also like that. The explosion of Mount Merapi in the past was enough to defy the attack from Pajang to Mataram, and Mount Lawu was the place for Prabu Brawijaya V, the ancestor of the Matarm Kingdom and the Palace of Yogyakarta’s founder, to take shelter. Beside a form of prayer for the well-being and safety of the Ngarsa Dalem and the people of Yogyakarta, Labuhan is also a form of the Hamemayu Hayuning Bawono philosophy. Photo : Tepas Tandha Yekti Source: KRT. Rintaiswara