У нас вы можете посмотреть бесплатно Jejak Tak Utuh | Clairine Faiza или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Jejak Tak Utuh merupakan karya tari konseptual berbasis praktik yang memposisikan tubuh sebagai medium refleksi atas fragmen pengetahuan ekologis dan temporal, dengan pendekatan post-choreographic dalam format video. Jejak Tak Utuh berangkat dari temuan tubuh purba Manyarejo sebagai fragmen pengetahuan, bukan sebagai asal-usul yang bisa direkonstruksi secara utuh. Tubuh purba itu hadir dalam kesadaran kontemporer hanya melalui sisa jejak material, narasi ilmiah, dan tafsir yang selalu tertunda. Karya video ini tidak berupaya menghidupkan kembali tubuh tersebut, melainkan menempatkan tubuh kini sebagai medan respons terhadap keterputusan tersebut. Melalui gerak yang bersifat reflektif dan non-representasional, tubuh dalam karya ini bergerak di antara keinginan untuk memahami dan kesadaran akan batas pemahaman. Tubuh tidak berperan sebagai ilustrasi masa lampau, tetapi sebagai alat berpikir yang merasakan jarak temporal dan ekologis. Relasi antara tubuh dan lingkungan tidak ditampilkan sebagai harmoni yang nostalgis, melainkan sebagai hubungan yang rapuh, terputus, dan terus dinegosiasikan. Karya ini merespons wacana Eco Art dengan menolak pendekatan yang normatif dan solutif. Alih-alih menawarkan pesan ekologis yang eksplisit, Jejak Tak Utuh memperlihatkan bagaimana krisis ekologis juga merupakan krisis cara mengetahui bagaimana manusia modern membaca alam, sejarah, dan tubuhnya sendiri. Dalam konteks tersebut, kegagalan memahami tubuh purba secara menyeluruh justru menjadi produktif karena ia membuka ruang refleksi tentang posisi tubuh manusia masa kini yang hidup setelah keretakan relasi ekologis. Dengan demikian, Jejak Tak Utuh memosisikan tubuh sebagai arsip yang tidak lengkap, sekaligus sebagai medium untuk merasakan keterbatasan pengetahuan. Jejak yang tersisa tidak dimaksudkan untuk ditutup atau disempurnakan, tetapi dibiarkan terbuka sebagai pengingat bahwa relasi tubuh, lingkungan, dan waktu selalu terbentuk melalui ketidakutuhan.