У нас вы можете посмотреть бесплатно RUMAH ADALAH TEMPAT PULANG PALING RAMAH | PAWAI IMTIHAN MADRASAH | RUMAH DAN ORANG DESA или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Sudah lama aku tidak benar-benar bercengkrama dengan teman-teman di desa. Kesibukan di luar kota membuat waktu terasa cepat, jarak terasa pendek tapi pertemuan jadi mahal. Sampai akhirnya aku pulang, bukan untuk liburan, tapi untuk menghadiri acara rutinan tahunan: pawai imtihan madrasah. Hari itu desa terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak pagi, orang-orang sibuk dengan persiapan, seolah semua ingin menyumbangkan sedikit kreativitasnya. Ada yang berdandan ala setan, penuh darah palsu, tawa, dan teriakan bercampur jadi satu. Ada pula pocong-pocong berjalan santai di siang bolong, tak lagi menyeramkan, justru terasa akrab. Yang lain memilih kesederhanaan. Gerobak kayu disulap menyerupai perahu untuk memancing, ada pula yang membangun warung kecil ala jaman dulu—lengkap dengan kostum lawas dan senyum yang tidak dibuat-buat. Semua berjalan beriringan, tanpa lomba, tanpa ingin paling menonjol. Hanya ingin tampil, ingin ikut merayakan. Matahari hari itu kejam, terik dan tak bersahabat. Keringat mengalir, kulit terbakar perlahan. Tapi anehnya, tak ada yang benar-benar mengeluh. Senyum tetap dipertahankan, tawa tetap dibagikan. Dan di tengah panas yang menyengat itu, aku menyadari satu hal: yang cantik tetaplah cantik—bukan karena riasan atau kostum, tapi karena keikhlasan yang dipakai sejak pagi. Di antara keramaian itu, aku merasa pulang. Bukan hanya ke desa, tapi ke bagian diriku yang sempat tertinggal. Aku berdiri di pinggir jalan, membiarkan pawai itu lewat satu per satu. Wajah-wajah yang dulu akrab kini terasa asing, tapi senyumnya masih sama. Ada yang menepuk bahuku sambil bercanda, ada yang hanya mengangguk kecil—cukup untuk saling mengingat tanpa perlu banyak kata. Waktu memang mengubah banyak hal, tapi hari itu ia seolah memberi jeda, membiarkan kami bertemu lagi di titik yang sama. Suara rebana, teriakan anak-anak, dan tawa orang dewasa bercampur jadi satu. Riuh, tapi hangat. Aku melihat anak-anak kecil berjalan dengan langkah bangga, membawa kostum yang mungkin dibuat semalaman oleh orang tuanya. Di mata mereka, pawai ini bukan sekadar arak-arakan, tapi panggung kecil untuk merasa diakui. Aku tersenyum sendiri. Di luar kota, aku sering merasa sibuk tapi kosong. Di sini, semua terlihat sederhana tapi penuh. Tak ada target, tak ada tenggat waktu, hanya kebersamaan yang berjalan pelan mengikuti irama desa. Ketika pawai usai dan jalanan kembali lengang, aku tahu aku harus kembali pergi. Tapi ada sesuatu yang tertinggal di dadaku—rasa tenang yang lama tak kutemui. Mungkin inilah yang selama ini kucari: pulang, walau hanya sebentar, untuk mengingatkan bahwa aku pernah tumbuh dari tempat yang ramai oleh tawa, bukan hanya oleh ambisi.