У нас вы можете посмотреть бесплатно Meneladani Kesetiaan Sahabat: Pelajaran Loyalitas dari Perang Mu'tah или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
1. Kesetiaan Terhadap Wasiat Kenabian Kesetiaan di Mu'tah dimulai bahkan sebelum pedang pertama terhunus. Ketika Rasulullah ﷺ menunjuk tiga panglima secara berurutan—Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah—para sahabat memahami sebuah isyarat pahit: bahwa kemungkinan besar ketiganya akan gugur. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mundur atau memprotes takdir tersebut. Kesetiaan mereka bersifat mutlak. Mereka berangkat menjemput maut bukan karena mencari kemenangan teritorial, melainkan karena menjaga kehormatan risalah yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Bagi mereka, perintah Nabi adalah titah langit yang lebih berharga daripada nyawa sendiri. 2. Estafet Panji: Cinta yang Tak Membiarkan Kebenaran Jatuh Momen paling dramatis dalam perang ini adalah bagaimana panji Islam dijaga agar tetap tegak berkibar. Zaid bin Haritsah memeluk panji itu dengan keberanian luar biasa hingga tombak musuh menembus dadanya. Begitu Zaid gugur, Ja’far bin Abi Thalib menyambar panji tersebut secepat kilat. Ketika tangan kanannya ditebas hingga putus, ia memegang panji dengan tangan kirinya. Saat tangan kirinya pun putus, kesetiaannya tak lantas luruh; ia mendekap panji itu dengan kedua pangkal lengannya yang tersisa ke dadanya. Ia tidak ingin simbol Islam menyentuh tanah selama jantungnya masih berdenyut. Inilah puncak dari fana’ fi al-hubb (melebur dalam cinta)—sebuah kesetiaan yang menganggap rasa sakit fisik sebagai mahar bagi kemuliaan di akhirat. 3. Penaklukan Gejolak Jiwa: Abdullah bin Rawahah Kesetiaan tidak selalu berarti tanpa rasa takut, melainkan kemampuan untuk menaklukkan ketakutan demi sebuah prinsip. Abdullah bin Rawahah sempat termenung sejenak melihat lautan manusia di pihak musuh. Namun, kesetiaannya bangkit dalam bentuk syair yang menggetarkan: "Wahai jiwaku, jika engkau tidak terbunuh sekarang, engkau tetap akan mati... Inilah saatnya engkau membuktikan cintamu." Ia memilih untuk setia pada janji setianya di Bai’at Aqabah daripada menyelamatkan diri. Ia menerjang barisan musuh bukan karena ia tidak mencintai hidup, tapi karena ia lebih mencintai Zat yang memberi hidup. 4. Kesetiaan Kolektif: Solidaritas di Bawah Komando Khalid Setelah ketiga panglima syahid, kesetiaan para sahabat diuji dengan kekosongan kepemimpinan. Di tengah kekacauan, mereka tidak mementingkan ego masing-masing. Mereka dengan rendah hati menyerahkan kepemimpinan kepada Khalid bin Walid, seorang mualaf yang baru bergabung namun memiliki kecerdasan militer. Kesetiaan pasukan kepada Khalid adalah bentuk ketaatan kepada sistem (jamaah). Mereka percaya pada ijtihad Khalid untuk melakukan taktik mundur yang jenius demi menyelamatkan sisa pasukan. Mereka menunjukkan bahwa setia tidak selalu berarti mati konyol, tapi juga setia pada tanggung jawab untuk menjaga eksistensi umat demi perjuangan masa depan. Kesimpulan: Intisari Kesetiaan Mu'tah Kesetiaan para sahabat di Mu'tah mengajarkan kita bahwa: Iman adalah Penggerak: Tanpa iman, rasio 3.000 lawan 200.000 akan berakhir dengan pengkhianatan atau pelarian. Cinta Melampaui Logika: Luka dan rasa sakit menjadi hambar saat fokus tertuju pada Ridha Allah. Kesetiaan adalah Estafet: Perjuangan membutuhkan keberlanjutan. Jika satu pejuang jatuh, yang lain harus segera menyambut beban amanah tersebut tanpa menunda. "Mereka adalah kaum yang mencintai kematian di jalan Allah, sebagaimana musuh-musuh mereka mencintai kehidupan."