У нас вы можете посмотреть бесплатно Karya Tari "Woh Laku" Padepokan 54 | Clairine Faiza или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
"Woh Laku" Koreografer : Clairine Faiza Saharani Putri Kusumawardhani, S.Sn. Komposer : Raffly Anggara Putra, S.Sn. Penari : Izza & Nadine Sinopsis Laku spiritual khususnya masyarakat Desa Wajak Kabupaten Tulungagung, dalam memperjuangkan keberlangsungan hidup masyarakat sekitar, yang rerata petani di musim kemarau panjang. Latar Belakang Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki beraneka ragam budaya dan tradisi. Setiap desa di Kabupaten Tulungagung tradisinya sangat melekat pada masyarakat dengan ciri khas masing-masing. Salah satu tradisi sekaligus menjadi fenomena kebiasaan masyarakat lokal setiap musim kemarau Panjang yakni tradisi Tiban. Tradisi ini berasal dari Desa Wajak, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Kebiasaan masyarakat yang mayoritas petani di Kabupaten Tulungagung khususnya Desa Wajak meyakini bahwa ketika kemarau panjang melangsungkan tradisi Tiban dapat menurunkan hujan. Tradisi ini dilakukann untuk keberlangsungan pengairan dan kesuburan pertanian agar bisa panen. Tradisi Tiban dilakukan oleh 2 pemain yang masing-masing memegang ujung dari sodo aren, dan melakukan cambuk menyambuk sejumlah 6 kali. Umumnya Tiban diiringi dengan alat musik gamelan berciri khas ketukan kenthongan yang menghasilkan resonansi atmosfer cuaca dengan mengandung curah hujan. Pada zaman dahulu para pemain Tiban melakukan laku spiritual bermalam di makam leluhur Desa Wajak. Hal tersebut dilakukan untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa bersama leluhur Desa Wajak yang telah mendahului untuk menghormati babat tanah Wajak. Laku spiritual ini dipercaya pemain Tiban yang akan unjuk kebolehan esoknya agar bisa mendapat kekuatan lebih. Hal tersebut yang memantik untuk dijadikan gagasan karya tari ini. Gagasan Berpijak pada fenomena tersebut diambil ide gagasan yakni fenomena kebiasaan yang mentradisi para masyarakat khususnya petani di Desa Wajak yaitu melakukan ritual tradisi Tiban saat kemarau panjang. Kebiasaan ini merupakan kegiatan yang menafsirkan spirit perjuangan dan pengorbanan untuk dapat melangsungkan keberlanjutan hidup pertanian yang menjadi sumber utama pangan dalam kehidupan. Ide Garap Bagian pertama menggambarkan situasi saat kemarau panjang tiba dengan tawaran visual interpretasi masyarakat yang sedang merasakan kekeringan, kegersangan, dan kesusahan. Bagian kedua merupakan representasi masyarakat yang bangkit dari keterpurukan dan mendapatkan petunjuk untuk melalui laku spiritual berdoa kepada Sang Maha Kuasa bersama leluhur yang telah mendahului. Dipercaya akan mendapatkan kekuatan lebih. Bagian ketiga ketika kepercayaan dan kekuatan sudah berhasil didapatkan saatnya melangsungkan tradisi Tiban dengan 6 cambukan. Bagian keempat penggambaran rasa syukur masyarakat yang diberkahi turunnya hujan selepas melangsungkan Tiban. Bagian kelima wujud suka cita para masyarakat yang rerata petani tersebut akhirnya dapat melangsungkan keberlanjutan pertaniannya yang merupakan sumber utama kebutuhan pangan dalam kehidupan yaitu menanam padi dan panen untuk dijual ke pasar. Ide Gerak Ragam gerak yang digunakan berpijak pada ide garap masing-masing bagian. Bagian pertama menggunakan komposisi gerak flooring dengan mengeksplorasi dedaunan kering. Bagian kedua menggunakan motif gerak lifting untuk penggambaran keberadaan yang jauh saat memperoleh petunjuk. Spirit mistis dan penghormatan ketika berada di sebelah makam leluhur. Serta penggambaran berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Sedikit pada bagian transisi memasukkan repertoar gerak cakil untuk melambangkan kecepatan dan ketangkasan setelah mendapatkan kekuatan. Bagian ketiga masuk Tiban ini merupakan pengembangan motif gerak tiban dalam wujud keprajuritan dengan properti sodo aren. Bagian keempat wujud bersyukur dengan adaptasi ekspresi gerak menanam padi dan mengambil air. Bagian kelima suka cita menggunakan eksplorasi gerak panen nggebyok pari (memisahkan padi dengan batangnya). Ide Musik Garap musik yang diterapkan pada karya ini menggunakan instrument gamelan jawa dengan ciri khas gaya Tulungagung. Penyusunan iringan disesuaikan dengan kebutuhan garap tari untuk mendukung suasana karya. Selain itu, juga diterapkan vokal tambahan berupa suara hewan untuk membangun suasana pada bagian awal. Pengisian suara hujan pada karya ini dihasilkan dari suara beras yang dimasukkan ke dalam pipa guna menghasilkan suara riuhnya hujan. Ide Setting dan Properti Setting dedaunan kering tersebar dilantai merupakan penggambaran suasana kering dan tandus kemarau panjang. Properti portable dengan bentuk dasar 2 kubus diolah menyerupai kijing (makam), yang ketika dipisahkan dan dibalik menjadi trap/level, ketika dibuka menjadi lumbung padi.