У нас вы можете посмотреть бесплатно Masyarakat Adat Balla Tana Toraja Tolak Proyek Geothermal di Bittuang или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#tribuntimur #tribunviral Masyarakat Adat Balla Tana Toraja Tolak Proyek Geothermal di Bittuang TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Masyarakat Adat Balla secara tegas menolak rencana proyek geothermal (panas bumi) di Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Penolakan tersebut disuarakan dalam forum Kombongan Kalua’ (Musyawarah Besar) yang dilaksanakan di Tongkonan Tondon Tuan Balla, Selasa (27/1/2026). Ma’kombongan Kalua melibatkan tokoh adat, tokoh agama, pemuda, serta perwakilan perempuan dari empat lembang (desa) di Kecamatan Bittuang, yakni Lembang Se’seng, Pali, Balla, dan Bittuang. Pantauan Tribun Toraja, ratusan masyarakat adat menghadiri kegiatan tersebut, mulai dari lansia hingga anak-anak. Di depan lokasi musyawarah tampak spanduk putih polos bertuliskan “Menolak Geothermal” yang dipenuhi ratusan tanda tangan masyarakat adat. Sepanjang jalan di wilayah Balla juga terpasang berbagai spanduk berisi kalimat penolakan terhadap proyek geothermal. Salah satu perwakilan masyarakat adat Balla, Markus Raya Randa, mengatakan penolakan ini didasari kekhawatiran bahwa proyek geothermal bukan sekadar persoalan investasi dan energi, melainkan menyangkut ruang hidup masyarakat adat yang selama ini bergantung pada kelestarian alam. “Proyek geothermal ini bukan hanya soal investasi atau energi, tetapi menyangkut ruang hidup masyarakat adat yang selama ini hidup berdampingan dengan alam,” ujar Markus kepada media. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam surat WPSPE yang ditawarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), disebutkan luas wilayah proyek mencapai 12.979 hektare. “Jika melihat luasan tersebut, sekitar 80 persen wilayah Kecamatan Bittuang akan dijadikan wilayah proyek pembangunan energi panas bumi atau geothermal,” jelasnya. Forum Kombongan Kalua’ tersebut kemudian ditutup dengan pembentukan Aliansi Masyarakat Toraja Tolak Geothermal. Aliansi ini bersifat terbuka, mencakup seluruh unsur masyarakat, tanpa batasan bagi siapa pun yang ingin bergabung. Sementara itu, berdasarkan berbagai sumber, geothermal atau panas bumi merupakan sumber energi terbarukan yang berasal dari panas alamiah di dalam bumi, yang terkandung dalam uap air, air panas, dan batuan. Energi ini dihasilkan dari peluruhan radioaktif dan aktivitas tektonik, serta dimanfaatkan sebagai energi bersih berkelanjutan, khususnya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan pemanasan. Namun demikian, masyarakat adat Balla menilai bahwa rencana pengembangan energi panas bumi di wilayah adat mereka berpotensi mengancam lingkungan, ruang hidup, serta nilai-nilai budaya Toraja yang telah diwariskan secara turun-temurun.(*) ================ Wawancara: Markus Raya Randa Perwakilan Masyarakat Adat Balla Reporter Anastasya saidong Ridwan Narator : Nurul Muhlisa (Mhs Magang UINAM) Editor Video: Muhlis Update info terkini via http://tribun-timur.com/ Follow dan like fanpage Facebook http://bit.ly/FBTribunTimurMks YouTube business inquiries: 081144407111 Follow akun Instagram http://bit.ly/IGTribunTimur Follow akun Twitter http://bit.ly/twitterTribunTimur