У нас вы можете посмотреть бесплатно 04 TEKNIK PROBLEM SOLVING или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Mengapa Diagnosis Masalah Menentukan Keberhasilan Penyelesaian Konflik Agribisnis Konflik agribisnis jarang bersumber dari satu faktor tunggal. Ia biasanya muncul dari kombinasi: ketidakamanan tenurial, asimetri informasi, tata kelola rantai pasok, ketidakadilan kontrak, serta guncangan pasar (harga) yang memengaruhi perilaku aktor. Studi tentang konflik lahan di Indonesia menunjukkan bagaimana relasi perusahaan–pemerintah–masyarakat menghasilkan kontestasi klaim dan memperumit upaya penyelesaian ketika mekanisme pengaduan dan keadilan prosedural lemah (Berenschot, 2024; Putra et al., 2024). Dalam konteks sawit, misalnya, perangkat tata kelola sukarela seperti RSPO memiliki mekanisme resolusi konflik, tetapi akses, keadilan prosedural, dan hasilnya tidak selalu memadai bagi komunitas terdampak; temuan ini mengingatkan bahwa problem solving tanpa diagnosis akar masalah dan tanpa desain proses yang adil dapat melahirkan “solusi administratif” namun konflik sosialnya tetap hidup (Afrizal et al., 2023). Di sisi lain, konflik juga bisa “dipicu” oleh dinamika ekonomi—misalnya volatilitas harga hortikultura—yang memunculkan saling tuding antara petani, pedagang, dan pemerintah. Kajian pada rantai nilai cabai Indonesia menunjukkan volatilitas harga sebagai hasil interaksi banyak faktor (produksi, tata kelola pasar, konsumsi, kebijakan, jeda waktu), sehingga intervensi yang semata-mata menambal gejala cenderung gagal (Muflikh et al., 2021). Karena itu, tahap awal manajemen konflik yang paling menentukan adalah diagnosis: membedakan gejala (symptoms) dari akar masalah (root causes), mengurai hubungan sebab–akibat, lalu menyepakati fokus perbaikan. Dalam literatur manajemen konflik, kualitas diagnosis memengaruhi pilihan strategi (kolaboratif/kompetitif/mediasi) serta peluang tercapainya kesepakatan yang berkelanjutan (Rahim, 2011; Fisher & Ury, 2011; Mayer, 2012). Bab ini memperkenalkan dua alat diagnosis yang praktis namun kuat: Problem Tree dan Fishbone (Ishikawa) Diagram. Keduanya membantu kelas/kelompok kerja membangun shared understanding tentang apa yang sebenarnya terjadi, mengapa terjadi, siapa terdampak, dan intervensi apa yang paling masuk akal.