У нас вы можете посмотреть бесплатно Apakah Pembagian Tak Rata dari Bandar Jadi Kunci Terbongkarnya Skandal Narkoba Kapolres Bima Kota? или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
#rino Video Editor : Rino Syahril Pembagian yang tidak rata diduga menjadi pemantik terbongkarnya skandal narkoba yang menyeret Kapolres Bima Kota nonaktif, AKBP Didik Putra Kuncoro. Benarkah faktor ini membuka tabir jaringan gelap di tubuh kepolisian? Kasus ini mencuat berawal dari pengakuan anak buahnya, eks Kasat Narkoba Polres Bima Kota AKP M, yang lebih dulu ditangkap dalam perkara serupa. Dari nyanyian itulah, benang kusut dugaan keterlibatan pimpinan mulai terurai. Kepala Subdirektorat Tiga Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Kombes Zulkarnain Harahap, menegaskan bahwa keterangan AKP M menjadi dasar pemanggilan hingga penetapan tersangka terhadap AKBP Didik. Dalam pemeriksaan itu, Didik mengakui mengonsumsi dan memiliki sabu. Pengakuan tersebut mendorong Divisi Profesi dan Pengamanan Polri berkoordinasi dengan Dittipidnarkoba Bareskrim untuk mengamankan barang bukti. Harahap membeberkan, barang haram itu semula berada di rumah Didik, lalu dipindahkan atas permintaan Didik melalui seorang polwan, Aipda Dianita Agustina. “Polwan itu, menurut pemeriksaan sekarang, dia hanya diminta memindahkan koper (berisi narkoba), hanya itu saja,” jelasnya. Dari koper berisi narkoba itulah, status tersangka Didik kian menguat. Namun cerita tidak berhenti di sana. Rantai Kasus dari Bripka hingga Kapolres Skandal ini bermula dari penangkapan Bripka F dan istrinya oleh Polda NTB. Keduanya diduga berperan dalam peredaran sabu di wilayah Kota Bima, dibantu dua tersangka lain dalam distribusi. Pengembangan kasus mengarah pada keterlibatan oknum polisi lain. Pada 3 Februari 2026, Bid Propam dan Ditresnarkoba melakukan tes urine terhadap AKP M. Hasilnya, positif amfetamin dan metamfetamin, sebagaimana disampaikan Kabid Humas Polda NTB Kombes Kholid. Tak hanya itu, Ditresnarkoba Polda NTB menyita 488 gram sabu dari rumah dinas AKP M. Dalam interogasi, AKP M mengakui kepemilikan barang bukti tersebut, yang diduga berasal dari seorang bandar berinisial KI dan kini masih diburu. Rencananya, sabu tersebut akan diedarkan di wilayah Sumbawa. “Jumlah barang bukti yang diamankan menjadi dasar kuat dalam menetapkan oknum tersebut dalam peredaran gelap narkoba,” imbuh Kholid. Di tengah fakta-fakta itu, isu pembagian tak rata kembali mengemuka—apakah konflik internal dan distribusi keuntungan yang timpang menjadi pemicu pengakuan? Ataukah ini sekadar konsekuensi dari pengembangan penyidikan yang menemukan mata rantai lebih besar? Yang jelas, pendalaman dan pengembangan terus berjalan. Polda NTB masih menelusuri siapa penyuplai utama dan seberapa luas jaringan yang terlibat. Publik pun menanti: akankah tabir sepenuhnya tersingkap, atau masih ada nama besar lain di baliknya? Sumber Video Instagram/feedgramindo Instagram/@insidelombok Jangan lupa follow akun-akun sosial media TribunPekanbaru.com untuk mendapatkan beragam informasi terkini dan updatenya: YouTube: / @tribunpekanbaruofficial Facebook: / tribunpekanbarufanspage Saluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaLZ... TikTok: / tribunpekanbaru Instagram: / @tribunpekanbaru