У нас вы можете посмотреть бесплатно Lahir dan besar di Rafah, Palestina. Ikuti kisah Mas Raed Arada hingga lulus S2 UI (Part 1) или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Raed adalah seorang mahasiswa yang berasal dari kota Rafah, yang terletak di Jalur Gaza Selatan, Palestina, sebuah wilayah di tepi Laut Mediterania. Selama 20 tahun, ia tinggal di sana bersama keluarganya. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Raed memiliki cita-cita untuk melanjutkan studinya di luar negeri, dengan Mesir atau Turki sebagai tujuan awalnya. Ia kemudian mendaftar di Gaza Training Centre (GTC), sebuah lembaga pendidikan yang menawarkan program diploma tiga (D3) selama dua tahun. Meskipun ia berhasil lulus dengan predikat yang baik, situasi yang memburuk di Palestina membuatnya sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Ketika sedang magang di sebuah perusahaan, Raed menemukan sebuah peluang emas. Ia melihat iklan beasiswa untuk belajar di Universitas Lampung (Unila) yang ditawarkan melalui Kementerian Pendidikan Palestina. Merasa ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, ia segera mendaftar. Setelah melalui proses seleksi, Raed dinyatakan memenuhi syarat dan diterima di Unila. Sebelum memutuskan untuk berangkat, ia melakukan riset mendalam tentang Indonesia dan merasa sangat tertarik untuk datang dan belajar di negara ini. Namun, perjalanan Raed untuk mencapai Indonesia tidaklah mudah. Proses untuk bisa keluar dari Gaza memakan waktu yang sangat lama, yaitu sembilan bulan. Perjalanan darat dari Rafah ke Mesir, yang dalam kondisi normal hanya memakan waktu 10 jam, menjadi jauh lebih lama dan berbahaya karena kondisi jalan yang buruk dan banyaknya pos pemeriksaan yang harus dilewati. Setibanya di Mesir, ia masih harus menunggu selama 40 hari untuk mengurus visa pelajarnya. Setelah visa berhasil didapatkan, barulah Raed bisa memulai perjalanannya menuju Indonesia. Ia terbang dari Mesir ke Abu Dhabi, kemudian melanjutkan penerbangan ke Jakarta. Dari Jakarta, ia akhirnya menempuh perjalanan terakhirnya dengan menyeberang ke Lampung untuk memulai babak baru dalam hidupnya sebagai mahasiswa di Universitas Lampung. Latar Belakang Pendidikan: S1 di Universitas Lampung (UNILA): Raed adalah lulusan dari jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Lampung. Ia berhasil lulus dengan predikat pujian (cum laude) dan menjadi salah satu lulusan terbaik di wisuda periode V tahun akademik 2022/2023. S2 di Universitas Indonesia (UI): Setelah lulus dari UNILA, Raed melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 di Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, juga melalui jalur beasiswa. Prestasi Akademik: Selain menjadi lulusan terbaik, Raed juga pernah menjadi peserta terbaik IV dalam Lomba Membawakan Reportase di Festival Handai Indonesia pada tahun 2020. Ia juga tercatat sebagai penulis sebuah karya ilmiah berjudul "PERANCANGAN ALAT PENGUKUR BERAT, TINGGI DAN SUHU BADAN MANUSIA SECARA OTOMATIS BERBASIS IOT" di Universitas Lampung. Aktivitas dan Peran: Ketua Persatuan Mahasiswa Palestina di Indonesia (PMPI): Raed aktif dalam organisasi dan menjabat sebagai Ketua Persatuan Mahasiswa Palestina di Indonesia. Dalam perannya ini, ia menyuarakan kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa Palestina di Indonesia, terutama terkait izin tinggal (KITAS) di tengah agresi Israel. Kecintaan pada Indonesia: Dalam sebuah eksperimen sosial, Raed menunjukkan kecintaannya pada Indonesia dengan menolak imbalan uang dan hadiah untuk membakar bendera Indonesia. Ia juga fasih berbahasa Indonesia, yang ia pelajari dalam waktu empat bulan setelah tiba di Indonesia pada tahun 2019. Kondisi Pribadi: Keluarga di Gaza: Raed adalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Ia seringkali merasa khawatir dan tidak tenang memikirkan keselamatan keluarganya di Gaza, terutama saat terjadi eskalasi konflik dan putusnya komunikasi. Tantangan Pribadi: Meskipun berada jauh dari zona konflik, Raed mengaku tidak bisa hidup dengan tenang. Ia sulit tidur dan tidak dapat fokus, bahkan saat mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS), karena pikirannya selalu tertuju pada kondisi keluarganya dan rakyat Palestina di Gaza. Secara keseluruhan, Raed Arada adalah seorang pemuda Palestina yang berprestasi secara akademik, aktif dalam organisasi, dan memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Indonesia. Di sisi lain, ia juga terus berjuang dengan kekhawatiran dan tekanan batin akibat konflik yang terjadi di tanah airnya.