У нас вы можете посмотреть бесплатно Donald Trump Sebut Iran Menyerah, Akademisi: Kontradiksi, AS Bisa Jadi dalam Posisi Terdesak или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru. Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut Iran sebagai :The Loser of the Middle East" dan mengklaim Iran telah menyerah kepada negara-negara tetangganya dinilai tidak mencerminkan kondisi geopolitik sebenarnya di kawasan Timur Tengah. Akademisi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Dr. Emaridial Ulza, mengatakan pernyataan Trump tersebut lebih merupakan retorika politik dibanding gambaran nyata situasi konflik yang sedang berlangsung. "Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi dengan mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk menekan lawan secara psikologis," kata Emaridial dalam keterangan tertulis, Minggu (8/3/2026). Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut Iran telah meminta maaf dan menyerah kepada negara-negara tetangganya setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Dirinya bahkan menyebut Iran bukan lagi sebagai pengganggu Timur Tengah, melainkan pecundang Timur Tengah. Menurut Emaridial, pernyataan tersebut juga disertai ancaman bahwa Iran akan menghadapi pukulan sangat keras. Hal itu membuka kemungkinan penargetan wilayah atau kelompok yang sebelumnya tidak masuk dalam daftar target. Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Hubungan Luar Negeri ini menilai narasi tersebut justru mengandung kontradiksi dan menunjukkan situasi di lapangan kemungkinan jauh lebih kompleks. "Pernyataan itu penuh kontradiksi yang menunjukkan bahwa situasi perang sebenarnya sangat kompleks, bahkan bisa jadi Amerika Serikat sedang berada dalam posisi terdesak," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa dalam banyak konflik internasional, deklarasi kemenangan sepihak sering digunakan sebagai strategi negosiasi sekaligus membangun opini publik. Pola tersebut, kata dia, juga terlihat dalam sejumlah dinamika internasional sebelumnya, mulai dari negosiasi dagang AS dengan Tiongkok hingga ketegangan dengan Korea Utara. "Klaim bahwa Iran telah menyerah hampir pasti merupakan framing untuk konsumsi domestik, membangun narasi kemenangan yang dibutuhkan Trump bagi publiknya dan dunia, bukan deskripsi akurat atas kondisi di lapangan," kata Emaridial. Ia menambahkan, deklarasi kemenangan melalui media sosial tidak serta-merta berarti perdamaian telah tercapai. Editor: Djohan Nur Uploader: Djohan Nur