У нас вы можете посмотреть бесплатно Bandung | Ep. 133 | Macet panjang, hati tegang, langkah tetap — Suara lain или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Hari ini terasa makin sempit. Kuningan — Jalur Damri ke Bandung Tarif terjangkau — Layanan bus reguler Stasiun keberangkatan — Titik penjemputan lokal Lampu jalan di Terminal Kuningan, angin debu bawa asap karet Suara roda beradu aspal, bau bakso dari gerobak dekat halte Naik Damri delapan puluh ribu, dompet tipis tapi langkah pergi #bandung #indonesian #indonesiandangdutrapcrossover #lagu #irama Music style: Indonesian Dangdut-Rap Crossover Tags: bandung, newskaraoke, news, karaoke, nyhetsrytm, rap Lyrics: Lampu jalan di Terminal Kuningan, angin debu bawa asap karet Suara roda beradu aspal, bau bakso dari gerobak dekat halte Naik Damri delapan puluh ribu, dompet tipis tapi langkah pergi Anak sekolah merapat, pekerja ngumpet tas punggung penuh janji Jam berdentang, layar kecil tunjukkan Bandung masih jauh Kerai-kerai kaca memantul wajah yang lelah ingin pulang dan mau Di kursi dua-tiga, ilham rapuk, telepon bergetar kabar lama Kalau tiket murah, harap murah juga hati yang terluka Lampu stadion padam, tribun gemetar, bobotoh bentak di malam itu Sajak amarah memecah, pita wajah pemain, citra tersapu debu Suara kecaman dari kantor, seragam resmi membentang dingin Namun di trotoar, nada lain berbisik, emosi mengeras jadi sinis Ada yang merobek poster, ada yang lempar kata tanpa kendali Kota ikut menahan napas, layar berita menuliskan geli Persib menyayut suara, namun suporter tumpah asa ke jalan Garis antara cinta dan destruksi tipis seperti benang tahan Di kelas yang sunyi, bel pecah jadi sirene, kabar itu menampar pagi SMPN dua puluh enam, bangku kosong, tas tergantung kaku di laci Orang tua menatap kotak pesan, wali kota ambil mikrofon tegas Janji investigasi, mata pengawas menyapu setiap ruang kelas Namun malam menaruh dingin di leher anak-anak yang takut Langkah kecil jadi sorot, tapi luka tetap menganga di sudut Media berputar, opini mengencang, kota menata ulang kata Di antara janji-janji, ada suara kecil yang jatuh tanpa suara Damri melaju lewat sawah, klakson memecah kabut pagi Hook: Delapan puluh ribu, tiket pergi ke harap yang pecah Delapan puluh ribu, tiket pergi ke harap yang pecah Koper berdentum, tubuh lelah, kepala penuh berita yang gundah Lagu ibukota tak pernah henti, hanya berubah nada dan arah Di antara jalur ekonomi dan amarah stadion, kota seperti napas tersengal Anak-anak menatap jendela, berharap malam tak lagi mengulang gelap Petugas tulis laporan, suporter ajak maaf, tapi suara masih gemetar Di lorong sekolah, petak demi petak dipasang lampu dan cermin entah Damri tetap melaju, membawa cerita, wajah-wajah yang belum sembuh Kota Bandung tercekik antara rasa dan ritual, tekanan makin meruncing Terminal, stadion, sekolah—semua berdentang jadi satu timpaan Akhir perjalanan, pintu terbuka, penumpang turun, langkah susut, udara dingin.