У нас вы можете посмотреть бесплатно Surabaya | Ep. 126 | Macet lagi, hujan turun, kita tetap jalan — Denyut berbeda или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Ada yang janggal, tapi kita jalan terus. Surabaya — kumpulkan unggahan relawan Surabaya — label aktivitas komunitas lokal Surabaya — dokumentasi kegiatan lapangan Di depan warung kopi, asap kopinya mekar di trotoar Lampu jalan bergetar, motor lewat, bunyi klakson kasar Langkah sepatu anak relawan menekan tanah panas #surabaya #indonesian #indonesiandangdutrapcrossover #lagu #irama Music style: Indonesian Dangdut-Rap Crossover Tags: surabaya, newskaraoke, news, karaoke, nyhetsrytm, rap Lyrics: Di depan warung kopi, asap kopinya mekar di trotoar Lampu jalan bergetar, motor lewat, bunyi klakson kasar Langkah sepatu anak relawan menekan tanah panas Kertas brosur lipat, tangan berdebu, suara imam dekat masjid Di bawah bayang Tugu Pahlawan, dedaunan mengusap patung baja Anak kecil lompat genangan, wajahnya basah tetapi mata waspada Ada stempel sejarah di dinding bata, tulisan pudar, noda minyak Orang tua menunjuk peta, bicara perang, bicara nama yang dilupakan Relawan Surabaya bawa nasi kotak, senyum tercecer di antara antrian Koperasi kecil, kartu nama, suara qasidah bertabrakan dengan sirene Ngopi gratis Aipda Sugeng di pojok pasar, cangkir plastik berderai Warga duduk melingkar, curhat bergantian, masalah-masalah yang senyap Kota ini berbisik, tetangga curiga, pagar besi punya sejarah Jalur trem yang tak lagi berfungsi, bekas roda mencetak ritme patah Di kantong kampung ada guru mengajar huruf, anak-anak menulis masa depan Di lorong-lorong ada relawan yang menempelkan doa di balik gerobak lapak Beat berdegup, drum logam, dangdut bertabrakan dengan rim kota Mulut-mulut bicara politik, ada yang tertawa, ada yang menahan tawa Tugu nganga menyaksikan, sayap merawat luka, patung menelan debu Bayang-bayang malam mengikat suara azan dengan alarm yang menyapu Ngopi lagi, cangkir kedua, Aipda Sugeng mencatat nama-nama Bogor atau Surabaya, bedanya pada lantai, bukan pada luka yang sama Papan nama tua menempel di toko, tinta luntur tapi cerita membara Relawan bagi buku, bagi pakaian, bagi waktu yang selip di antara kerja Hook: Di trotoar Surabaya kita saling bertanya, kita saling waspada Di trotoar Surabaya kita saling bertanya, kita saling waspada Pasar malam di sudut kota, aroma sate, remuknya hari kerja Seorang nenek mengumpulkan receh, anak muda berbisik soal kerja bakti Monumen berdiri kaku, peluang bicara menunggu di bawah lampu neon Orang-orang berkumpul, suara-suara kecil menumpuk jadi kebisingan Langkah makin cepat, relawan mengepak tas, mata melirik langit Kaca bekas toko memantulkan senyum palsu, ada yang menolak dan ada yang mengiyakan Sejarah terpahat di tiap batu, tapi kaki terus mencari meja kosong Suara petugas polisi mengajak duduk, kopi panas meredam dingin Kerumunan menyusut, tapi ketegangan menggantung seperti kabel rusak Ada bisu yang sifatnya tajam, ada bisik yang mengacak rencana hukum Lampu neon mau padam, suara jutek dari gedung tinggi beranak suara Langkah pulang dengan kantong berisi cerita, keyakinan longgar, wajah meludah waktu Hook: Di trotoar Surabaya kita saling bertanya, kita saling waspada Di trotoar Surabaya kita saling bertanya, kita saling waspada Di depan warung kopi, asap tinggal jejak, motor pergi satu-satu Tugu tetap diam, tapi kaki-kaki kecil menulis tanggal di tanah basah Relawan tarik jaket, polisi menutup buku catatan, keduanya melempar pandang Kota nanti tidur dengan resah yang manis, dengungnya menyimpan semua yang tak terbilang.