У нас вы можете посмотреть бесплатно Kata Istri Jenderal Yani Saat Bertemu Bung Karno Tak Ucapkan Belasungkawa или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Kata Istri Jenderal Yani Saat Bertemu Bung Karno Tak Ucapkan Belasungkawa Pada tanggal 13 November 1967, Koran Kompas memuat berita yang cukup menarik, ketika wartawan Kompas mengunjungi rumah Almarhum Jenderal Ahmad Yani. Di sana, wartawan Kompas bertemu dan berbincang cukup lama dengan Yayu Rulia Subandiah Istri Almarhum Jenderal Ahmad Yani, mantan Menteri Panglima Angkatan Darat yang diculik dan dibunuh komplotan G30S PKI pada dini hari 1 Oktober 1965. Kepada wartawan Kompas, Yayu banyak bercerita tentang kejadian-kejadian yang dialaminya sepeninggal Jenderal Yani pergi untuk selama-lamanya. Menurut Yayu, setelah suaminya meninggal dibunuh pada tanggal 1 Oktober 1965, dirinya diundang oleh Presiden Sukarno ke Istana. Bung Karno hanya menenangkannya tapi tak terucap sepatah kata pun ucapan belasungkawa dari mulut Presiden atas terbunuhnya Jenderal Yani. "Dia hanya berkata sudah kau tenang tenang saja. Dia sama sekali tidak menyatakan belasungkawa," kata Yayu. Cerita lainnya yang diungkap Yayu, adalah soal kedatangan Hartini, salah satu istri Bung Karno ke rumahnya. Kata Yayu, Hartini datang ke rumahnya, lalu tiba-tiba menginstruksikan agar dirinya mengumpulkan istri para Pahlawan Revolusi. "Ibu Hartini pun pernah datang ke rumah dan berkata kumpulkan Ibu-ibu para Pahlawan Revolusi itu saya mau menyatakan belasungkawa kepada mereka," kata Yayu mengenang kedatangan Hartini, istri Bung Karno. Namun menurut Yayu, dirinya ketika itu menolak permintaan Hartini. "Pergilah ke rumah mereka yang kehilangan suami itu” begitu jawaban Yayu kepada Hartini yang datang ke rumahnya tanpa didampingi Bung Karno. Tidak hanya Hartini, istri Bung Karno lainnya atau istri yang keempat yakni Ratna Sari Dewi, kata Yayu sering juga datang ke rumahnya. Bahkan satu kali, Ratna Sari Dewi tiba-tiba datang ke rumah sembari membawa kue besar. "Katanya untuk merayakan dibubarkannya PKI," kata Yayu mengenang kembali ucapan Ratna Sari Dewi ketika datang ke rumahnya usai PKI dibubarkan oleh Letjen Soeharto. Kepada wartawan Kompas yang mewawancarainya, Yayu mengatakan tugasnya setelah suaminya pergi adalah mendidik anak-anaknya sambil menunjuk salah satu anaknya yang tengah asyik bermain, tak jauh dari tempat dilakukannya wawancara. “Saja harus bercerita kepada mereka, kalau mereka sudah besar nanti bahwa dulu mereka pernah punya ayah dan ayah mereka itu adalah seorang yang berani dan baik hati. Ia mati karena dibunuh dan kuburannya ada di Kalibata," kata Yayu. Yayu Rulia Subandiah, istri Jenderal Ahmad Yani dalam buku, "Ahmad Yani sebuah Kenangan-kenangan," yang disusunnya sendiri menceritakan kondisi keluarganya setelah suaminya pergi untuk selama-lamanya. "Pak Yani tidak meninggalkan kekayaan materiil kepada kami. Yang ditinggalkan adalah bersifat spirituil yang dididikkan, dilemparkan kepada kami selama ini," kata Yayu. Menurut Yayu, setelah suaminya tak ada, ia pun harus mengambil urusan keluarga dengan menjadi kepala keluarga. Dirinya pun pontang panting mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anaknya. Kata Yayu, dirinya pernah dagang minyak. Bukan dagang minyak dengan jumlah ton-tonan. Tetapi jualan minyak ibaratnya liter demi liter. "Janda Menteri Panglima Angkatan Darat menjadi pedagang eceran minyak? Malu? Tidak. Kita tidak perlu malu mengerjakan pekerjaan apapun selama itu halal. Tidak ada suatu pekerjaan yang halal yang hina untuk dikerjakan orang. Mulai dari bawah begini, sedikit demi sedikit terbukalah pintu bidang wiraswasta bagiku. Juga berkat bantuan teman Pak Yani dulu," tutur Yayu. Jenderal Soeharto yang kemudian menjadi Menteri Panglima Angkatan Darat, menurut Yayu, tidak melupakan keluarganya. Soeharto pernah memberi sumbangan uang 10 juta. Uang itu agar didepositokan ke Bank, untuk menutup kebutuhan rumah tangga. "Ini terjadi sebelum sanering. Terus ada sanering. Bagaimanapun, Pak Harto tidak melupakan kami" ujarnya.