У нас вы можете посмотреть бесплатно Menapak Jejak Islam di Bumi Tenguyun, Kisah Syekh Ahmad Al Maghribi или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Semilir angin pagi berembus pelan di kawasan makam keramat Desa Salimbatu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Rimbun pepohonan menaungi sebuah kompleks pemakaman sederhana yang berdiri tenang di tepi Sungai Kayan. Di sanalah, masyarakat setempat meyakini terbaring seorang ulama yang namanya terus hidup dalam ingatan kolektif: Syekh Ahmad Al Maghribi. Kompleks makam itu berada tak jauh dari jembatan penyeberangan Tanjung Palas–Salimbatu. Dari Tanjung Selor, perjalanan darat sekitar satu jam melalui Jalan Meranti, Desa Bulu Perindu, mengantar pengunjung menuju lokasi yang kini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi di Bumi Tenguyun, sebutan bagi wilayah Bulungan. Bangunan makam tersebut jauh dari kesan megah. Sebuah pendopo berdinding sederhana berdiri menghadap sungai, diselimuti kain kuning dan hijau yang mulai kusam dimakan waktu. Nisan berbahan tegel hitam keabu-abuan tanpa ukiran mencolok menandai pusara sang ulama. Di sekelilingnya, bunga-bunga tabur yang telah mengering menjadi saksi kedatangan para peziarah yang silih berganti. Bagi masyarakat Salimbatu, makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Ia adalah penanda awal jejak Islam di pesisir utara Kalimantan. Dari cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Syekh Ahmad Al Maghribi diyakini sebagai salah satu penyiar awal agama Islam di wilayah tersebut. Aping, penjaga keamanan makam, menuturkan bahwa tak ada catatan pasti mengenai tahun kedatangan sang ulama. Sejarahnya hidup dalam ingatan lisan masyarakat. “Kami tidak tahu persis kapan beliau datang. Tidak ada yang mengingat awalnya. Yang jelas, beliau inilah yang membawa dan memperkenalkan Islam di Desa Salimbatu,” ujarnya saat ditemui TribunKaltara, Minggu (22/2/2026). Menurut kisah yang berkembang, Syekh Ahmad Al Maghribi datang sebagai bagian dari rombongan berjumlah sekitar dua belas orang. Mereka berpencar ke berbagai wilayah untuk menyebarkan ajaran Islam. Syekh Ahmad disebut sampai di Salimbatu dan menetap di sana, membimbing masyarakat setempat mengenal ajaran Tauhid. “Rombongannya itu katanya ada 12 orang. Karena berpencar, beliau sampai ke Salim Batu. Di sinilah beliau menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat,” ungkap Aping. Konon, ia berasal dari Brunei. Namun, jejak perjalanan hidupnya sebelum menetap di Salimbatu masih menyisakan misteri. Nama “Al Maghribi” pun diyakini bukan nama yang dibawa sejak lahir. Awalnya, ia dikenal sebagai Ahmad. Gelar itu kemudian melekat seiring besarnya pengaruh dan peran beliau dalam membina masyarakat. “Karena pengaruhnya besar di Desa Salimbatu, beliau kemudian dikenal sebagai Syekh Ahmad Al Maghribi,” jelasnya. Ketika Syekh Ahmad Al Maghribi tiba di Salimbatu, yang dikenal sebagai desa tertua di Bulungan, ia disebut tidak menghadapi penolakan. Pada masa itu, kepercayaan masyarakat masih terbatas dan cenderung memuja alam. Kehadirannya justru dianggap membawa pencerahan baru. “Beliau disambut baik. Dulu masyarakat lebih banyak percaya pada kekuatan alam. Setelah beliau datang, mereka mulai mengenal ajaran Islam,” tutur Aping. Di balik kisah penyebaran Islam tersebut, masyarakat juga mempercayai adanya karamah yang menyertai wafatnya sang ulama. Dikisahkan, ia dimakamkan sekitar pukul 18.00 Wita. Seharusnya, senja telah turun dan gelap mulai menyelimuti. Namun menurut cerita warga, matahari tak kunjung terbenam hingga sekitar pukul 19.00 Wita. Setelah prosesi pemakaman selesai dan para pelayat meninggalkan lokasi, barulah cahaya perlahan redup dan malam benar-benar tiba. Peristiwa itu dipercaya sebagai salah satu tanda kemuliaan beliau. Sebutan “Al Maghribi”, yang lekat dengan waktu senja, kian kuat dihubungkan dengan kisah tersebut. Cerita lain yang tak kalah menarik juga berkembang di sekitar makam. Aping mengisahkan bahwa dahulu posisi makam berada tepat di bibir sungai. Saat banjir besar melanda bertahun-tahun silam, makam tersebut disebut tiba-tiba berpindah ke tempat yang lebih tinggi tanpa campur tangan manusia. “Kalau hujan deras, logikanya pasti tempias karena makam beliau paling pinggir dan tidak ada dinding penutup. Tapi tidak pernah terkena hujan. Justru dua makam murid beliau yang di samping itu yang sering terkena,” ujarnya, menunjuk dua pusara lain di dekat makam utama. Terlepas dari berbagai kisah yang menyelimutinya, kompleks makam Syekh Ahmad Al Maghribi kini menjadi salah satu tujuan ziarah, terutama setelah Idulfitri. Peziarah datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar Kalimantan. Mereka berdoa sekaligus mengenang sejarah awal masuknya Islam di Bulungan. Tak ada pungutan retribusi. Tak ada pula pembatasan bagi siapa pun yang ingin berkunjung. “Pernah ada peziarah dari Bali juga. Kami tidak melarang siapa pun, baik Muslim maupun non-Muslim. Semua boleh datang dan mendoakan beliau,” kata Aping.