У нас вы можете посмотреть бесплатно NGOBROL DESA 226 | Dapur SPPG di Desa: Siapa Untung 6 Juta per Hari? Desa Dapat Apa? или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Apakah kehadiran Dapur SPPG di desa benar-benar menjadi penggerak ekonomi lokal? Ataukah justru hanya menjadi ladang keuntungan segelintir pihak? Dalam Ngobrol Desa Episode 226 ini, diskusi berkembang tajam dan apa adanya. Berangkat dari informasi bahwa satu dapur SPPG bisa menerima insentif hingga Rp6.000.000 per hari, muncul pertanyaan besar: jika satu yayasan mengelola banyak dapur, berapa besar dana yang berputar? Dan yang lebih penting, di mana posisi desa? Diskusi ini mengulas keresahan kepala desa, perangkat desa, pengelola BUMDes, hingga masyarakat yang merasa belum mendapatkan ruang optimal dalam skema SPPG. Apakah desa hanya menjadi lokasi operasional tanpa manfaat ekonomi signifikan? Mengapa BUMDes tidak otomatis menjadi mitra? Mengapa UMKM lokal kesulitan masuk sebagai pemasok bahan baku? Dalam percakapan yang terbuka dan kritis ini, dibedah sejumlah isu penting: Skema insentif harian Rp6 juta dan potensi akumulasi tahunan. Ketimpangan peluang antara yayasan pengelola dan pemerintah desa. Minimnya pelibatan BUMDes sebagai supplier. Potensi pengelolaan limbah dapur untuk usaha turunan (ternak, pakan, kompos). Fenomena relawan versus pekerja formal. Dugaan praktik “titik” dan biaya masuk yang beredar di lapangan. Perbedaan kualitas menu antar wilayah. Diskusi ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mengajak berpikir strategis: bagaimana desa bisa mengambil peran lebih kuat? Apakah mungkin Musyawarah Desa mendorong regulasi lokal agar setiap usaha yang beroperasi di desa wajib bermitra dengan entitas desa? Apakah BUMDes bisa menjadi agregator suplai beras, telur, sayur, dan kebutuhan dapur lainnya? Episode ini juga menjadi refleksi bagi para Tenaga Pendamping Profesional: apakah peran pendamping hanya administratif, atau juga strategis dalam memastikan keberpihakan ekonomi lokal? Ngobrol Desa 226 menjadi ruang dialektika antara realitas kebijakan dan harapan pemberdayaan. Jika dapur hadir di desa, maka desa seharusnya tidak hanya menjadi penonton. Tonton sampai akhir dan ikut beri pandangan Anda: Apakah SPPG sudah berpihak pada desa? Bagaimana seharusnya model idealnya? Apakah BUMDes perlu lebih agresif mengambil peluang? Karena masa depan ekonomi desa tidak boleh sekadar bergantung pada belas kasihan sistem. Ia harus diperjuangkan dengan nalar, strategi, dan keberanian. #NgobrolDesa, #SPPG, #DapurDesa, #BUMDes, #EkonomiDesa, #DanaDesa, #KoperasiDesa, #DesaBerdaya, #Pemberdayaan, #KepalaDesa, #TenagaPendamping, #UMKMDesa, #KebijakanPublik