У нас вы можете посмотреть бесплатно Meninggal saat Salat dan Berpuasa di Ponpes Al Khoziny, Pesan Terakhir Santri Haikal Terungkap или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUNJATIM.COM - Selain meninggalkan rekaman suara merdu Syi’ir Istighfar, kepergian selamanya Achmad Haikal Fadil Alfatih (12), warga Dusun Timur Leke, Desa Sendang Dajah, Kecamatan Labang, Bangkalan ternyata menyisakan kalimat terakhir kepada ibunya, Siti Fatimah (41). Ketika hendak kembali ke Ponpes Al Khoziny, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Haikal menitipkan uang senilai Rp 450 ribu kepada Siti Fatimah untuk diberikan kepada ayahnya, KH Moh Soleh (51). Pesan terakhir itu disampaikan Kiai Soleh selepas prosesi pemakaman Haikal yang disemayamkan di komplek pemakaman umum, sekitar 300 meter ke arah Barat rumahnya, Senin (13/10/2025) pada pukul 08.00 WIB. Jenazah Haikal tiba di rumah duka dari RS Bhayangkara Polda Jatim pada Minggu (12/10/2025) malam. “Kalimat yang membuat saya terus terngiang-ngiang itu ucapan terakhir Haikal ke ibunya, ini saya titip uang empat ratus lima puluh ribu untuk bapak,” ungkap Kiai Soleh. Mendengar ucapan Haikal, Siti Fatimah sempat mempertanyakan untuk apa uang senilai Rp 450 ribu tersebut. Bahkan Fatimah menyarankan uang tersebut dipergunakan untuk keperluan Haikal ketika sudah kembali di pondok. “Haikal menjawab tidak apa-apa, saya ada. (Uang) ini nanti buat bapak kalau tidak punya uang untuk belanja, tolong nanti dikasih uang itu,” kenang Kiai Soleh. Haikal merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara, ia menjadi salah seorang korban meninggal dunia asal Kabupaten Bangkalan atas peristiwa ambruknya Mushola Ponpes Al Khoziny pada 29 September 2025. Dalam rilisnya yang disampaikan BPBD Kabupaten Bangkalan pada Minggu malam, Tim DVI RS Bhayangkara Polda Jatim berhasil melaksanakan identifikasi terhadap 2 kantong jenazah asal Kabupaten Bangkalan. Selain Haikal, satu jenazah teridentifikasi atas nama Syamsul Arifin (18), warga Dusun Badang, Kecamatan Tlagah. Selain dihadiri ratusan warga, prosesi Shalat Jenazah hingga pemakaman Haikal juga dihadiri perwakilan dari Ponpes Al Khoziny serta perwakilan Takmir Masjid Sunan Ampel Surabaya. Kehadiran perwakilan Ponpes Al Khoziny disebut Kiai Soleh untuk memberikan semangat. “Saya sudah menegaskan, bahwa saya sudah ikhlas. Bahkan saya bangga dengan kematian anak saya yang seperti itu, bangga sekali karena sulit orang mati dengan mati yang seperti itu. Mati mencari ilmu adalah satu tingkatan dengan para auliya,” tegas Kiai Soleh. Di Ponpes Al Khoziny, Haikal masuk saat usia kelas 6 SD dan saat ini tercatat sebagai siswa kelas 1 Tsanawiyah. Saat terjadi insiden di Ponpes Al Khoziny, Kiai Soleh secara pasti tidak mengetahui posisi Haikal. Namun berdasarkan informasi yang ia peroleh, posisi almarhum Haikal sedang melaksanakan Shalat Aahar di tengah bagunan mushola baru. Saat terjadi guncangan, para santri memilih untuk meninggalkan mushola. “Tetapi Haikal dibilangin tidak mau, ia meneruskan shalatnya. Jika mengutip dari kalimat Kiai Makki yang kemarin ke sini, dia sudah diperlihatkan oleh Allah bahwa itu tempatnya di Surga. Jadi Haikal tidak bergeming hingga menyelesaikan shalatnya, dan posisinya dalam keadaan berpuasa. Dia sudah setahun di pondok dan berpuasa Senin-Kamis,” papar Kiai Soleh. Gelagat yang tercermin dari sosok Haikal selaras dengan cita-citanya yang disampaikan kepada pamannya. Bahwa kelak Haikal ingin menjadi seorang ulama besar yang menghasilkan kitab-kitab. Tekad itu disebut Kiai Soleh tergambar dalam keseharian Haikal saat menimba ilmu di Ponpes Al Khoziny. Bahkan Haikal hanya membutuhkan waktu dua bulan menguasai dan hafal Imrithi Bin Tahqiq sehingga Haikal dibebaskan dari SPP selama tujuh bulan berikutnya. “Itu yang saya harapkan dan banggakan, saya pantau. Anak saya ternyata memang punya cita-cita ingin menjadi ulama dan bisa mengarang kitab,” pungkasnya. Kepala BPBD Kabupaten Bangkalan, Moh Zainul Qomar mengungkapkan, update jenazah santri Ponpes Al Khoziny yang berasal dari Kabupaten Bangkalan hingga Minggu (12/10/2025) malam terdata sejumlah 15 orang. Termasuk Haikal dan Syamsul Arifin (18), warga Dusun Badang, Kecamatan Tlagah. “Diperkiraan masih ada dua jenazag dari Bangkalan yang belum teridentifikasi, yakni dari Kecamatan Geger dan Kecamatan Blega,” singkat Qomar. Data rilis Tim DVI Polda Jatim per Minggu malam menyebutkan, tim gabungan telah berhasil mengidentifikasi total 53 korban dari 67 kantong jenazah yang diterima. Sampai saat ini dari data antemortem yang melaporkan hilang yaitu 63 korban hilang, masih tersisa 10 orang yang belum ditemukan dan di kamar jenazah masih terdapat sebanyak 11 kantong jenazah. (edo/ahmad faisol) VP: Rizky Reporter: Ahmad Faisol Baca Selengkapnya: https://madura.tribunnews.com/madura/... #tribunjatim #matalokalmenjangkauindonesia