У нас вы можете посмотреть бесплатно EKSKLUSIF - Daratan Mataram Mulai Tenggelam: Kisah Mereka yang Rumahnya Digulung Ombak или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Siang itu, suara musik lawas A. Rafiq berjudul “Milikku” terdengar sayup-sayup dari salah satu rumah di Pantai Mapak Indah, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Lagu tahun 1978 itu mengalun bersama debur ombak yang perlahan mengikis halaman rumah para nelayan. Di bibir pantai, puing-puing bekas permukiman berserakan. Rumah-rumah itu hancur dihantam gelombang pasang. Tembok jebol. Atapnya roboh. Tak ada lagi jarak antara rumah dengan pantai. Laut sudah berada di halaman rumah warga Mapak Indah. Pada gazebo kecil, sekitar lima meter dari bibir pantai, seorang pria paruh baya duduk santai sambil membuka buku catatan lusuhnya. Dia adalah Haji Asad (55), tokoh masyarakat Lingkungan Mapak Indah. Kepada Tribun Lombok ia bercerita bagaimana abrasi yang makin parah menimpa kampung mereka. “Ini buku rekapan pembayaran ikan warga nelayan,” tutur Asad memulai percakapan, dengan kaca mata menempel di hidungnya. Dahulu, Haji Asad juga merupakan seorang nelayan. Sejak muda ia menantang gelombang demi mencari rezeki di laut. Tapi seiring usia, dia memilih menjadi pengepul ikan. Pria yang memiliki dua istri dan enam cucu itu menjadi saksi hidup bagaimana abrasi perlahan mengikis wilayah pesisir dan melenyapkan rumah-rumah penduduk. Kenangan masa kecil suasana pesisir Mapak Indah tempo dulu masih membekas kuat di ingatannya. Pesisir Mapak kini tak seindah namanya, banyak bangunan rumah penduduk sudah lenyap. “Asli (sungguh)…dahulu jauh jarak pantai ini. Kami di situ (pantai) dahulu main selodor, main bola, nonton layar tancap. Tidak seperti sekarang ini, air lautnya semakin naik terus,” tuturnya lirih, sembari melihat ke arah pantai. Ketika pertama kali membangun rumah, jarak garis pantai dari tempat tinggalnya kini sekitar 150 meter. “Kalau dahulu itu, pesisir pantainya masih jauh. Di samping rumah saya ini dahulu ada tiga rumah, sudah habis ditelan laut. Di depannya lagi ada kebun kelapa, baru kemudian pesisirnya,” kenang Haji Asad. Kini, jarak antara rumah Haji Asad dengan laut tinggal tujuh meter. Semua yang ia ceritakan tersebut sudah tidak ada. Ia bersyukur tahun 2022 silam rumahnya selamat dari amukan gelombang pasang. Meski begitu, ia tidak bisa menutupi nada getir dalam suaranya. Setiap kali ombak besar datang, ia hanya bisa pasrah dan berdoa agar air tidak masuk rumahnya. Pada akhir Desember 2022 silam, 17 unit rumah warga roboh diterjang cuaca ekstrem. Sebanyak 29 kepala keluarga (KK) dengan 100 jiwa menjadi korban. Mereka terpaksa mengungsi ke rumah keluarga. Karena kondisi semakin parah, mereka akhirnya direlokasi ke hunian sementara (huntara) tahun 2023. Huntara ini berada di lahan seluas 20 are milik Pemprov NTB, tak jauh dari Pantai Mapak Indah. Biaya pembangunan menghabiskan Rp2,1 miliar dari biaya tak terduga (BTT) Pemerintah Kota Mataram. Program: Lipsus VO: Laelatunni'am Editor Video: Dzul Fikri Uploader: Dzul Fikri #Tribunnews #tribunLombok #viral #video #trending #beritahariini #Lombokupdate #beritaLombokhariini #beritaterkini #beritanasional #warganet #hottopic #beritakriminalhariini #beritaviral #Shorts