У нас вы можете посмотреть бесплатно Keadilan & Kebenaran Wujud Ibadah Sejati || Amos или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
RENUNGAN HARIAN Rabu, 11 Maret 2026 – Amos 5:24 “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."” “Jadi margilinggiling ma songon aek uhumi, jala hatigoran songon sunge na so olo marsik.” KEADILAN DAN KEBENARAN WUJUD IBADAH SEJATI Saudara/i, Sahabatku semua di dalam nama Tuhan Yesus! Firman Tuhan hari ini menjadi pelajaran berharga dan sekaligus menjadi kritik tajam dalam aktivitas keagamaan kita saat ini. Tanpa sadar sering kita merasa bahwa ibadah yang sejati adalah tentang seberapa merdu nyanyian kita, seberapa indah alunana music kita, seberapa megah gedung ibadah kita, atau seberapa rutin kita melakukan ritual keagamaan dan persembahan kita. Semua itu tentu sangat penting. Nyanyian dan alunan musik yang merdu dan indah, fasilitas ibadah yang nyaman adalah bagian penting, sebagai sarana bagi kita untuk dapat merasakan kehadiran Tuhan, dan tentunya sebagai wadah untuk lebih focus untuk menerima kebenaran Firman Tuhan. Tetapi lewat nas hari ini, kita diingatkan bahwa semua ritual ibadah dan persembahan harus ditopang dengan sebuyak aksi nyata di dunia sosial, sebagaimana ditegaskan oleh nabi Amos, yaitu bahwa dalam kehidupan orang percaya keadilan harus bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir. "Biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air," adalah penegasan berbicara tentang kekuatan yang mampu mengikis batu karang yang paling keras sekalipun. Batu karang dalam sifat manusia yang perlu dikikis dan diterjang oleh keadilan adalah keegoisan, ketidakpedulian, dan penindasan. Keadilan bukanlah sekedar konsep hukum di atas kertas, melainkan tindakan nyata yang "bergerak". Ia menuntut kita untuk tidak diam saat melihat ketimpangan di sekitar kita. Di sisi lain, kebenaran digambarkan seperti "sungai yang selalu mengalir," mau mengingatkan bahwa kebenaran harus menjadi gaya hidup yang konsisten, tetap mengalir bahkan di tengah "musim kemarau" moralitas saat ini. Sahabatku semua! Di era digital ini, kita sering terjebak dalam fenomena "pencitraan" atau flexing. Kita sibuk membangun kolam “keakuan” yang indah di media sosial, namun lupa mengalirkan air keadilan dan kebenaran bagi sesama. Tuhan mengingatkan kita bahwa ibadah tanpa keadilan adalah kebisingan yang mengganggu telinga-Nya. Ibadah tanpa kebenaran adalah sebuah kemunafikan. Maka baiklah kita semakin menggumili makna ibadah kita, dengan menjadi saluran-saluran “air dan sungai kecil” kebenaran dan keadilan di dalam keluarga, di tempat kerja dan di dunia sosial kita. Dengan demikian, nyanyian pujian dan ibadah kita berkenan kepada Tuhan Allah. Amin! Selamat Beraktivitas! Tuhan Memberkati.