У нас вы можете посмотреть бесплатно Melihat dan Menelusuri Jejak dari Makam Wali Katum - Jejak Sang Guru #10 или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Salah satu makam ulama yang sering diziarahi oleh masyarakat Hulu Sungai Tengah dan Kalimantan Selatan, adalah makam Wali Katum. Letaknya di Desa Tabudarat Kecamatan Labuan Amas Selatan. Makam ini buka 24 jam dan menjadi salah satu objek wisata religius. Siapakah Wali Katum? Wafat 24 Juni 1982 Masehi, atau bertepatan 29 Sya’ban 1402 Hijriah pada usia sekitar 70 tahun, nama lengkapnya adalah Muhammad Ramli bin Katutut. Makamnya berada dii dalam kompleks makam bersama makam istrinya Shaimah binti Manshur dan anaknya yang bernama Siti Aisyah. Dikutif dari manakibnya yang pernah disampaikan Guru Danau, Wali Katum termasuk golongan Wali Tajrid, yaitu melepas segala aspek keduniawian. Masa kecilnya, bernama Artum Ali. “Beliau hidup apa adanya tanpa berusaha (bekerja). Hari-hari beliau hanya dihabiskan untuk mengabdi kepada Allah SWT,” kata Guru Danau. Bahkan, disebutkan, jika makanan Wali Katum makan. Tapi jika tidak ada, akan puasa. Meskipun demikian beliau tidak pernah mengeluh, minta-minta dan menyusahkan orang lain. Wali Katumpun selalu menutup diri dari orang lain dan suka menyendiri. Tidak banyak aktivitas beliau yang terekspos. Karena itulah di masyarakat beliau lebih dikenal dengan sebutan Wali Katum. Kata Katum sendiri diambil dari bahasa Arab yang berarti sembunyi. Menurut cerita warga sekitar, beliau kalau pergi selalu membawa Alquran. Apabila berhenti di perjalanan ia akan membacanya. Hingga akhir hayatnya, Alquran itu tidak lagi berbentuk segi empat. Tak lagi lonjong karena sisi-sisinya sudah habis terkikis lantaran sering dipegang untuk dibaca. Diriwayatkan, pernah suatu hari serombongan orang bermobil datang untuk mengundang dan menjemput Gusti Anang Katutut (ayah Wali Katum). Namun beliau tidak mau naik mobil dan mempersilahkan tamu yang menjemputnya lebih dahulu pulang. Sedangkan beliau mengeluarkan sebuah sepeda butut yang tempat duduknya hanya dililitkan kain supaya bisa duduk di atas sepeda butut tersebut. Namun Alangkah terkejutnya rombongan yang ingin mengundang beliau, ternyata ayah Wali Katum sudah tiba lebih dahulu dan sedang menyandarkan sepeda bututnya di depan rumah yang ingin mengundang tersebut. Padahal sewaktu berangkat tadi rombongan yang mengundang lebih dahulu dan cepat karena menggunakan mobil. Cerita lainnya, diriwayatkan Gusti Sulaiman bin Gusti H Hasan, bahwa tempo dahulu pada musim haji, seseorang jama’ah haji dari Hulu Sungai melihat seorang pria di mekah yang berjalan beriringan. Namun sambil berinting-inting atau jalan berjingkat-jingkat tanpa terompah. Lalu jama’ah haji tersebut bertanya pada pria yang berjingkat, apakah sedang kepanasan kaki berjalan di padang pasir. Pria itu menjawab , tidak. Kemudian ditanyakan siapa namanya dan tinggal dimana, Pria misterius itu menyebutkan namanya Muhammad Ramli dan alamatnya di Tebu Darat, Hulu Sungai Tengah. Karena merasa kasihan oleh jama,ah haji itu ketika melewati pasar dibelikanlah sepasang terompah. Namun, setelah menerima terompah tersebut, pria berjingkat-jingkat tadi menghilang begitu saja. Selesai menunaikan ibadah haji dan pulang ke kampung halaman, Sang jama’ah haji tadi teringat dan ingin pergi menemui Muhammad Ramli, di Tabu Darat. Tapi menurut penduduk kampung setempat, tidak ada warganya yang naik haji tahun ini. Tapi kalau orang yang bernama Muhammad Ramli memang ada, tapi tidak pergi haji, hanya berkhalwat di gubuk persawahan. Penasaran sang jama’ah haji itu pun bertandang ke Gubuk Muhammad Ramli. Ternyata memang dialah yang bertemu dengannya di Mekah. Sedangkan sepasang terompah terlihat digantungkan di dinding rumah / Gubuk Muhammad Ramli. Sejak saat itulah masyarakat baru mengetahui, bahwa Muhammad Ramli adalah seorang Wali Allah SWT, sehingga beliau diberi gelar “Wali Katum” atau wali yang tersembunyi. han/berbagai sumber EPISODE 1: DATU KALAMPAYAN • Asal Usul Kalampayan jadi Makam Syekh H M... EPISODE 2: DATU SANGGUL • Perjalanan Datu Sanggul dari Palembang ke ... EPISODE 3: DATU TANIRAN • Kisah Datu Taniran Berguru Selama 10 Tahun... EPISODE 4: KHATIB DAYAN DAN SULTAN SURIANSYAH • Menguak Kisah Sultan Suriansyah, Raja Banj... EPISODE 5: DATU KANDANG HAJI • Peninggalan Datu Kandang Haji di Sungai Di... EPISODE 6: DATU ABULUNG • Menelusuri Kubah Makam Syekh Abdul Hamid A... EPISODE 7: DATU AMUT • Kisah Keistimewaan Datu Amut dari Tak Berp... EPISODE 8: GURU SYURGI MUFTI • Jejak Keluarga Datu Kalampayan Hingga Guru... EPISODE 9: DATU LANDAK • Datu Landak Pendiri Masjid Agung Al Karoma... EPISODE 11: DATU KH M ARIF • Menelisik Kisah Unik Dijebak Untuk Makan P... EPISODE 12: HABIB HAMID • Al Habib Hamid Salah Satu yang Mendapatkan... EPISODE 13: DATU BAJUT DAN DATU BAJURI • Berziarah Ke Dua Makam Istri Datu Kalampay... #WaliKatum #JejakSangGuru #RamadanSehat