У нас вы можете посмотреть бесплатно KETOK PALU! Prabowo Bikin Trump 'Tunduk' di Rapat Board of Peace AS! 🇮🇩🔥 или скачать в максимальном доступном качестве, видео которое было загружено на ютуб. Для загрузки выберите вариант из формы ниже:
Если кнопки скачивания не
загрузились
НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если возникают проблемы со скачиванием видео, пожалуйста напишите в поддержку по адресу внизу
страницы.
Спасибо за использование сервиса ClipSaver.ru
Lanskap geopolitik global mencatat sejarah baru pada Kamis, 19 Februari 2026. Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, secara resmi mengadakan rapat pengukuhan dewan perdamaian internasional bertajuk"Dewan Perdamaian". Pertemuan tingkat tinggi ini dihadiri oleh para pemimpin dunia, namun sorotan utama pertemuan pada kehadiran dan artikulasi sikap Republik Indonesia yang disampaikan secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Melalui pengamatan mendalam terhadap kedamaian tersebut, terlihat jelas bahwa Indonesia tidak lagi sekadar hadir sebagai partisipan pasif, melainkan telah bertransformasi menjadi kekuatan penengah(pangkat menengah)yang disegani dan diperhitungkan di meja diplomasi elit dunia. Pengakuan Internasional: Apresiasi Khusus untuk Indonesia Posisi tawar Indonesia semakin menguat di panggung global langsung tergambar pada awal konferensi. Presiden Donald Trump secara khusus menyapa Presiden Prabowo Subianto. Dalam sapaan tersebut, Trump memberikan penghormatan atas kepemimpinan Prabowo serta menyoroti fundamental ekonomi dan stabilitas politik Indonesia yang solid. Pengakuan ini bukan sekadar basa-basi persahabatan. Dalam konstelasi politik tahun 2026, Amerika Serikat menyadari betul peran sentral Indonesia sebagai jembatan strategi antara negara-negara Barat,Global Selatan(negara-negara berkembang), dan dunia Islam. Lebih lanjut, penghargaan ini dipertegas di tengah pembahasan teknis mengenai penyelesaian konflik, Presiden Trump secara spesifik menyampaikan terima kasih khusus kepada Indonesia. Apresiasi ini merujuk pada konsistensi Indonesia dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan dan menjaga posisi yang netral namun proaktif. Hal ini membuktikan bahwa prinsip politik luar negeri “Bebas Aktif” yang dianut Indonesia diakui efektivitasnya oleh negara adidaya. Puncak Presidensi: Momen paling monumental dalam pertemuan"Dewan Perdamaian"tersebut terjadi padamenit ke-01:33:30, ketika Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato resminya. Menyikapi berbagai hal yang terjadi antarnegara besar, Presiden Prabowo mengambil alih narasi dengan ketegasan dan wibawa seorang negarawan. Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan satu prinsip fundamental:Perdamaian sejati tidak akan terwujud tanpa adanya keadilan.Beliau mengingatkan forum tersebut bahwa gencatan senjata hanyalah solusi kosmetik apabila akar ketidakadilan, menjatuhkan, dan standar ganda dalam hukum internasional tidak terselesaikan. Sikap ini sangat relevan dengan komitmen historis Indonesia dalam membela kemerdekaan bangsa-bangsa yang masih berada di bawah penjajahan, termasuk krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di berbagai belahan dunia. Lebih dari itu, Presiden Prabowo memberikan pernyataan sikap yang sangat tegas. Beliau menyatakan bahwa Indonesia siap mendukung penuh inisiatif"Dewan Perdamaian", dengan syarat mutlak: lembaga ini harus berlandaskan pada kesetaraan dan prinsip kemanusiaan, serta menolak keras jika dewan ini hanya dijadikan instrumen hegemoni baru bagi negara-negara tertentu. Pernyataan ini diutarakan langsung di hadapan Presiden AS dan para pemimpin blok kekuatan lainnya. Langkah ini menunjukkan keberanian diplomasi tingkat tinggi, menempatkan Indonesia sebagai mitra yang sejajar(mitra setara), bukan bawahan dari negara mana pun. Peristiwa pada tanggal 19 Februari 2026 ini memberikan sinyal optimisme yang sangat kuat bagi masa depan bangsa Indonesia. Sikap Presiden Prabowo di forum"Dewan Perdamaian"merupakan implementasi nyata dari amanat Pembukaan UUD 1945, yakni ikut melaksanakan Perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Bagi masyarakat Indonesia, pemandangan ini menumbuhkan rasa bangga dan keyakinan. Negara kita kini memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan global. Namun, apresiasi dan momentum ini juga harus diberikan dengan pengawalan yang kritis. Publik dan pemerintah harus terus bersinergi untuk memastikan bahwa forum seperti itu"Dewan Perdamaian"Menghasilkan tindakan konkret demi kemanusiaan, bukan sekedar janji retoris di atas kertas. Hari ini, dunia melihat Indonesia bukan dari ukurannya, melainkan dari kedalaman dan ketegasan suaranya. Ketok palu di Washington DC telah menjadi Saksi bisu bahwa wibawa diplomasi Indonesia kini berdiri tegak, siap menyambut masa depan dunia yang lebih adil dan beradab.